Lokakarya “Analisis dan Solusi Banjir di Provinsi Lampung”

Pada hari Senin tanggal 14 Mei tahun 2018 bertempat di aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila). Faklutas Pertanian Universitas Lampung yang tergabung dalam Forum DAS Provinsi Lampung menyelenggarakan Lokakarya “Analisis dan Solusi Banjir di Provinsi Lampung” kerjasama dari Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Forum DAS Provinsi Lampung, BPDASHL WSS.

Dalam acara lokakarya Forum DAS Provinsi Lampung menghasilkan beberapa rumusan sebagai berikut:

A. Pendekatan Kebijakan

  1. DAS Prioritas (Dipulihkan atau Dipertahankan), DAS Sekampung Provinsi Lampung
  2. Pendekatan HITS (Holistik, Integrated, Tematik dan Spatial) dan KISS (koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Sinergi) antar stakeholders
  3. Internalisasi Pengelolaan DAS dalam penyusunan Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) maupun Tata ruang Kab/Kota (RTRWD) dengan pendekatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
  4. Memperhatikan kegiatan pembangunan yang bersifat strategis nasional yang ada di Provinsi Lampung (Tol, Bandara, Double Track, dll)
  5. Berdasarkan Tata Ruang sekitar 70% wilayah provinsi Lampung adalah kawasan budidaya (APL) dan sekitar 30% kawasan hutan (TN, HL, HP, Tahura) perlu peran semua pihak untuk mengurangi dampak banjir, perlu pelibatan seluruh stakeholders dalam menangani masalah banjir di Provinsi Lampung
  6. Mendukung Kebijakan nasional Social Forestry dalam penataan hutan dengan melibatkan masyarakat dalam bentuk Perhutanan Sosial (HKM, HTR, HR)
  7. Pelaksanaan secara Collective Action dan Law enforcement

B.Pendekatan Teknis

  1. Upaya sipil teknis, Chek Dam , Dam Penahan, Gully Plug, Terras, tindakan Konservasi Tanah dan Aot (KTA)   perlu dikembangkan namun harus lebih dikelola secara baik  dan dilaksanakan secara bersama antar stakholders (PUPR, BBWS, Dinas Kehutanan, BPDASHL WSS, Pertanian)
  2. Pendekatan vegetatif, (Reboisasi dan Pengijauan, Agroforestry, NVS, Alley Croping, dll)
  3. Kombinasi pendekatan sipil teknis dan vegetatif (Terras ditambah tanaman penguat terras, grass water ways)
  4. Perlu keterpaduan dan koordinasi antarsektor dalam kegiatan mencegah
  5. Contoh: perlidungan bangunan strategis yang menyangkut hajat hidup rakyat seperti bendungan Batu Tegi dan bangunan irigasi perlu menjadi prioritas, sehingga usia pakainya menjadi lebih lama (pencegahan erosi dan sedimentasi di bendungan)
  6. Penanganan daerah/wilayah dengan risiko banjir yang tinggi agar menjadi prioritas.
  7. Penambahan alat pemantau curah hujan dan banjir

C.Pendekatan Sosial Ekonomi dan Budaya

  1. Pemberdayaan masyarakat dalam bentuk penguatan kelembagaan pengelolaan hutan (Perhutanan Sosial) sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat.
  2. Implementasi Sekolah Lapang Konservasi Tanah dan Air kepada masyarakat baik yang beraktivitas di kawasan hutan (HKM) maupun kawasan budidaya (APL)
  3. Sekolah lapang pembibitan tanaman untuk menunjang kegiatan reboisasi/penghijauan
  4. Pelatihan peningkatan kesejahteraan masyarakat baik yang beraktivitas di kawasan hutan (HKM) maupun kawasan budidaya (APL)
  5. Memperkenalkan akses pasar produk dari masyarakat baik yang beraktivitas di kawasan hutan (HKM) maupun kawasan budidaya (APL)

TINDAK LANJUT DALAM WAKTU DEKAT

  1. Prioritas lokasi penanganan adalah DAS Sekampung (Bendungan Batu Tegi, irigasi 63.000 ha sawah)
  2. Stakholders seperti BAPPEDA, DISHUT, KIMPRASWIL, BPDAS HL WSS, BBWSMS, PUPR, Dinas PERTANIAN Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perkenunan dan Peternakan, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, BMKG,  PT, FORUM DAS mengadakan pertemuan  lebih intens dalam rangka menyusun penanganan banjir pada spesifik lokasi sebagai percontohan pengelolaan banjir
  3. Peningkatan partisipasi masyarakat baik yang beraktivitas di kawasan hutan (HKM) maupun kawasan budidaya (APL)
  4. Implementasi kebijakan perhutanan sosial dengan pendampingan yang lebih intens (KHM, HTR, HR)
  5. Peningkatan edukasi untuk masyarakat khususnya yang bermukim di pinggir sungai agar mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim (meningkatnya intensitas curah hujan) agar dapat mengurangi dampak kerugian banjir yang lebih besar.

Maju Cemerlang Faperta Kita. Klik berita terkait