Dosen Teknik Pertanian Buat Inovasi Alat Oven Pengasapan Ikan

Friday, 27 July 2012 13:25

oven-asap(Unila): Jurusan Teknik Pertanian Fakutas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) hampir setiap tahun menghasilkan alat pertanian inovatif yang membantu masyarakat. Tak hanya untuk petani, teknologi yang dihasilkan juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat umum. Alat-alat pertanian sederhana yang dihasilkan antara lain alat pengupas kulit tangkil, alat pengupas kulit ari kedelai yang sangat membantu industri pembuatan tahu tempe, hingga granulator yakni alat yang menjadikan tepung berbentuk granul.

Inovasi alat yang dihasilkan dan diterapkan jurusan ini melalui salah satu dosennya adalah Oven Pengasapan Ikan. Sebuah alat yang menerapkan teknologi terbaru untuk membantu masyarakat di industri rumahan pengolahan ikan. Akademisi tersebut, Sri Waluyo, telah memberikan kontribusi besar sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi bagi masyarakat, antar lain diterapkan dan membawa perubahan besar bagi masyarakat di Kecamatan Pasirsakti, Lampung Timur. Alat ini dinyatakan telah mampu mendongkrak produksi hingga seratus persen.

Misalnya, jika di sana dahulu dalam sehari usaha ini hanya mampu mengolah 50 hingga 60 kilogram ikan, saat ini telah mencapai 130 kg. “Survei saya lakukan sejak Mei 2011 lalu. Berdasarkan hasil survei itu, daerah nelayan tersebut belum mendapatkan perhatian, bahkan bantuan,” ungkapnya, Kamis (26/7). “Di sana selain kuantitas produksi rendah, masalah higienitas pun ternyata tak terjaga. Seperti, pengolahan ikan asap menggunakan pemanggang yang tertutup, sehingga asap pun terkumpul di dalam pemanggang. Padahal, itu bisa membuat tampilan ikan tidak menarik,” paparnya.

Masyarakat hanya menggunakan pemanggang dari seng, sehingga menyebabkan adanya potensi kehilangan panas. “Maka alat ini dimodifikasi dengan menambahkan tripleks,” ungkapnya lagi. Ia juga mengaku tak bekerja sendiri. Inovasi terbaru ini juga dibantu beberapa dosen, “seperti Pak Warji sebagai ahli perancangan, Ibu Dyah yang mengetahui seluk-beluk pengolahan ikan, serta Pak Arif yang mengerti administrasi bisnis,” tukasnya.

Alat yang dibuat dengan investasi Rp 10 juta per oven itu sudah satu bulan digunakan. Satu oven tersusun 8 tray. Tray dibuat dari stainless steel yang diperkirakan awet hingga 5 tahun. Setiap tray mampu menampung 200 potong ikan Sembilang yang merupakan makanan favorit masyarakat sekitar.

Alat ini dilengkapi cerobong sehingga asap tidak hanya berkumpul di dalam oven. “Dulu waktu pengasapan hingga 3 jam, saat ini lebih cepat setengah jam,” bebernya kemudian. “Alat ini juga akan dipamerkan di Jakarta,” tutupnya. [Andry Kurniawan]

Sumber:www.unila.ac.id