“FAPERTA BERKARYA” Pengembangan Pasca Panen Kopi Untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi di Provinsi Lampung FP Unila 2019

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) melalui Dr. Ir. Tamrin, M.S., Dr. Ir. Sapto Kuncoro, M.S., dan Dr. Agr. Diding Suhandy, S.TP, M.Agr pada hari Kamis tanggal 11 Juli 2019 bertempat di Radar Lampung Televisi melaksanakan program siaran Faperta Berkarya dengan tema Pengembangan Pasca Panen Kopi Untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi di Provinsi Lampung.

Provinsi Lampung merupakan produsen kopi Robusta terbesar di Indonesia, sebanyak 72% produksi kopi nasional berasal dari kopi robusta Lampung.

Produksi kopi robusta Lampung trennya mengalami penurunan, pada tahun 2018 sebanyak 104.716 ton, padahal tahun 2017: 107.183 ton dan tahun 2016 : 115.479 ton, dengan sumbangsih terbesar dari Kabupaten Lampung Barat (57.503 ton dengan luas areal 53.780 Ha), disusul Kabupaten Tanggamus (31.346 ton dengan luas 41.416 Ha), Kabupaten Way Kanan (9.112 ton dengan luas 22.733 Ha), dan Kabupaten Lampung Utara (9.014 ton dengan luas 25.628 Ha). (Sumber data FP Unila).

Jurusan Ilmu Teknik Pertanian Unila. 
Kopi Dekaf (kopi tanpa kafein) pertama kali dibuat oleh Ludwig Roselius, seorang penjual kopi di Jerman 1905. Pada tahun tersebut Ludwig Roselius dapatkan setelah biji kopi pesanannya terkena dampak badai di laut saat proses pengiriman.

Kemudian Roseliusbereksperimen dengan kopi yang terendam air laut. Kandungan kafein pada kopi berkurang, mulai dari sinilah kopi dekaf terbentuk dan terus dikembangkan serta diproduksi secara massal.

Tujuan dekafeinasi agar rasanya tidak terlalu pahit serta untuk menekan efek samping dari aktivitas kafein di dalam tubuh.

Berbagai efek kesehatan dari kopi pada umumnya terkait dengan aktivitas kafein di dalam tubuh adalah meningkatkan kerja psikomotor sehingga tubuh tetap terjaga dan memberikan efek fisikologis berupa peningkatan energi.

FP Unila sudah mempunyai teknologi untuk melakukan pengurangan kandungan kafein kopi robusta tanpa menggunakan pelarut kimia, walaupun kandungan kafeinnya tidak habis total, masih menyisakan separunya (sampai batas medium).

Hal tersebut menjadi alternatif pilihan bagi penikmat kopi agar tetap terasa aroma khas kopi seduhannya, serta dalam jangka waktu kedepan akan terus dikembangkan terkait teknik-teknik pengurangan kafein non kimiawi sesuai kebutuhan kandungan kafeinnya.

Maju Cemerlang Faperta Kita.