FAPERTA BERKARYA “Penyakit Bulai (Peronosclerospora spp) Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) pada hari Kamis tanggal 19 Juli tahun 2018 bertempat di Radar Lampung Televisi. Jurusan Proteksi Tanaman FP Unila melalui Prof. Dr. Ir. Cipta Ginting, M.Sc., Ir. Joko Prasetyo, M.P., dan Ir. Efri, M.S., melaksanakan program siaran Faperta Berkarya live on Radar Lampung Televisi dengan tema ” Penyakit Bulai (Peronosclerospora spp) Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya”.

Bulai merupakan penyakit penting pada tanaman jagung. Penyakit telah dilaporkan menyebabkan kerugian yang besar di berbagai negara produsen jagung. Di Indonesia, bulai pernah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Kerugian ditimbulkan bervareasi dari Provinsi yang satu dengan Provinsi yang lain. Kerugian mencapai 90%, bahkan tanaman bisa puso, terutama bila penyakit menyerang varietas yang rentan.

Penyakit bulai dapat menyebabkan berbagai tingkatan gejala. Penyakit bulai umumnya menyebabkan gejala klorosis. Pada mulainya terjadi klorosis lokal yang terus dapat berkembang dan bila perkembangannya sampai pada titik tumbuh karena kondisi lingkungan yang mendukung, maka gejala penyakit bulai menjadi sistematik.

Gejala klorosis sistemik terjadi hanya pada daun-daun baruyang kemudian terbentuk setelah serangan patogen mencapai titik tumbuh. Gejala ini berakibat pada sangat terhambatnya pertumbuhan, tanaman menjadi kerdil.

Pada saat tongkol terbentuk terjadi gejala malformasi, kemungkinan yang dapat terjadi adalah :
1). Tongkol terbentuk, tetapi biji yang diproduksi sangat sedikit, banyak tongkol yang ompong.
2). Tongkol terbentuk tanpa klobat dan ukurannya jauh lebih panjang dari ukuran normal.
3). Tongkol yang terbentuk pada satu bagian tidak hanya satu, tetapi banyak, tongkol kecil-kecil hanya berupa klobot yang tumbuh berwarna hijau seperti daun.

Penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh jamur Peronosclerospora spp. Penyakit bulai di Indonesia umumnya disebabkan oleh P. Maydis, P. Sorghi, atau P. Phillipinensis. Secara morfologi bisanya P. Maydis banyka menyerang tanaman jagung di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, P. Sorghi banyak menyerang tanaman jagung di Sumatra Utara dan Jawa Barat. Sedangkan P. Phillipinensis bertanggungjawab terhadap bulai di Sulawesi dan sekitarnya.

Penyebab penyakit bulai di Provinsi Lampung secara khusus masih menjadi kontroversi. Secara tradisional, bulai di Provinsi Lampung disebabkan P. Maydis, namun pada pengujian yang modern molekuler menunjukan hal yang berbeda.

Sampai mikroskop menunjukan bahwa lapisan putih tersebut merupakan konidia dan kondiofor jamur patogen. Konidiofor terbentuk mulai jam 12 malam dan sekita jam satu pagi, konidia mulai terbentuk. Konidia mulai masak pada jam empat pagi dan pada jam lima pagi sudah banyak yang berkecambah.

Proses pembentukan konidia dan konidiofor sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan. Konidia dan Konidiofor terbentuk pada kelembapan yang tinggi (kurang lebih 90%) dan suhu di bawah 24 derajal celcius. Pada saat kondisi daun terserang telah tua mati dan mengering, pada bagian tersebut, pada spesies tertentu, dapat ditemukan oospora yang dapat bertahan di dalam tanah.

Pengendalian penyakit bulai umumnya dikendalikan secara terpadu. Pengendalian dilakukan dengan memilih benih dan waktu tanam yang tepat. 

Saat ini banyak diperjual-belikan benih hibrida, yang memiliki produktivitas tinggi, tahan penyakit bulai dan telah dirawat dengan fungisida sintetis, sedangkan waktu tanam yang tepat adalah awal musim penghujan. Benih-benih hibrida yang banyak digunakan di Provinsi Lampung saat ini adalah P27, P35, dan BISI 18.

Hal-hal yang perlu diwaspadai dalam penggunaan benih hibrida adalah bahwa efektivitas benih tersebut terhadap bulai dari waktu ke waktu akan mengalami penurunan dan suatu saat akan menjadi rentan. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa hal.

Pertama, patogen penyebab penyakit bulai dapat beradaptasi dengan membentuk varian baru melauli proses mutasi, sehingga menjadi patogen yang virulensianya lebih tinggi dari sebelumnya, yang tadinya rentan terhadap fungisida menjadi tahan terhadap fungisida yang dipakai.

Telah dilaporkan bahwa fungisida metalaksil yang dulunya sangat efektif untuk melawan bulai namun saat ini menajadi resisten terhadap bulai. Resisten patogen terhadap fungisida sintetis dapat diperlambat dengan penggunaan fungisida sintetis lain yang memiliki mekanisme kerja berbeda.

Saat ini fungisida yang paling efektif untuk melawan penyakit bulai adalah oksatiapiprolin yang dijual dalam berbagai merek dagang. 

Provinsi Lampung merupakan salah satu Provinsi yang sudah mencapai swasembada untuk tanaman jagung. Pada tahun 2017 Provinsi Lampung dapat mencapai suplus untuk tanaman padi dan jagung. Namun dibalik capaian tersebut ada ancaman bagi tanaman jagung yang bisa menyebabkan kerugian 90%. Bahkan tanaman jagung bisa puso. Kerguian ini belum terjadi di Provinsi Lampung, namun hal tersebut harus diwaspadai secara bersama. Klik info Panen Raya Jagung Kerjasama Antara Fakultas Pertanian Unila dengan PT. Vasham (Japfa Comfeed).

Maju Cemerlang Faperta Kita.