FAPERTA BERKARYA “Perubahan Iklim Dan Pertanian” FP Unila 2019

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) melalui Dr. Ir. Tumiar Katarina B. Manik, M.Sc., Ir. Eko Pramono, M.S., dan Purba Sanjaya, S.P., M.Si., pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2019 bertempat di Radar Lampung Televisi melaksanakan program siaran Faperta Berkarya dengan tema Perubahan Iklim dan Pertanian

Salah satu isu internasional yang saat ini menjadi fokus dunia adalah perubahan iklim.

Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun.

Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata yang terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, yang menyebabkan efek gas rumah kaca.

Sebagai contoh Badai Super Haiyan yang terjadi tahun 2013 yang menewaskan lebih dari 5000 jiwa. Pada bulan januari 2019, terjadi peristiwa membekunya amerika utara yang dikenal dengan polar vortex dimana suhu udara mencapai minus 60 ˚C, dan merupakan suhu terendah yang pernah tercatat. 

Pada saat yang sama di belahan bumi yang lain terjadi gelombang panas ekstrim yang terjadi di Australia hingga mencapai suhu 47 ˚C dan merupakan suhu tertinggi selama 80 tahun terahir. Gelombang panas ekstrim ini menyebabkan beberapa benda meleleh, serta ternak dan ikan mati.

Efek Gas Rumah Kaca dalam Pertanian
Gas Rumah Kaca (GRK) merupakan kelompok gas–gas yang dihasilkan oleh aktivitas manusia maupun secara alami, yang jika terakumulasi di atmosfer akan mengakibatkan bumi semakin panas.

Konsentrasi karbon dioksida atmosfer saat ini adalah sekira 370 ppmv, dan meningkat 1,2 ppmv setiap tahun. Konsentrasi ini lebih tinggi dibandingkan konsentrasi pada 160.000 tahun terakhir. Sedangkan peningkatan CO2 selama 200 tahun terakhir telah memberikan kontribusi sekitar 60% pada peningkatan efek rumah kaca.

Dari sudut pandang pertanian, pengaruh langsung dari tingginya konsentrasi gas rumah kaca adalah peningkatan suhu dan meningkatnya CO2 di atmosfer.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu akan memberikan dampak negatif terhadap produksi tanaman, hal ini dikarenakan oleh stress kekurangan air dan stress suhu.  Padi, diprediksi akan meningkat panennya karena peningkatan CO2, tetapi akan turun ketika peningkatan suhu sudah mancapai 3-4 ˚C.

Beberapa ahli  mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun kedepan perubahan iklim akan mempengaruhi laju presipitasi dan evaporasi, beberapa tempat akan memiliki kecenderungan lebih basah pada musim hujan dan lebih kering pada musim kemarau.

Hal ini menyebabkan petani mengalami kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk memulai tanam dan menentukan komoditas yang tepat.

Dari sudut pandang agonomi dan agro klimatologi, fakor faktor iklim yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah ketersediaan air, suhu, dan peningkatan konsentrasi CO2.

Pada konsentrasi CO2 tinggi, sebagian besar tanaman akan memiliki laju fotosintesis yang lebih tinggi dan laju respirasi yang lebih rendah per unit daun. 

Hal ini terjadi karena tanaman tidak perlu membuka stomata terlalu lebar saat konsentrasi CO2 diatmosfer tinggi, dan hal ini akan meningkatkan efisiensi air oleh tanaman.

Untuk daerah tropis hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut terutama terkait dengan hubungan suhu dan tingginya CO2 pada tanaman.

Beberapa penelitian menunjukkan hasil pertanian yang meningkat dengan meningkatnya CO2 diudara pada kondisi unsur hara dan lingkungan yang optimal.

Sedangkan pada kondisi yang terbatas, tingginya CO2 mungkin tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan tanaman.

Maju Cemerlang Faperta Kita.