Faperta Berkarya “Potensi Lampung Selatan sebagai Wilayah Sumber Bibit Sapi Peranakan Ongole” FP Unila 2019

Dosen Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung yakni Dr. Ir. Sulastri, M.P., Dr. Ir. Arif Qisthon, M.Si dan Akhmad Dakhlan Ph.D, hadir sebagai narasumber dalam acara Faperta Berkarya di Radar Lampung TV pada hari sabtu tanggal 5 Januari 2019 dengan topik “Potensi Lampung Selatan sebagai Wilayah Sumber Bibit Sapi Peranakan Ongole”.

Sapi peranakan Ongole (PO) merupakan hasil persilangan secara grading up antara sapi Sumba Ongole (SO) India dan Sapi Jawa (sapi lokal) yang terdapat di Indonesia.  Pembentukan sapi PO mulai dilakukan pada 1930. 

Karakteristik sapi PO sebagai berikut: tubuhnya berwarna putih keabu-abuan, bagian kepala, leher, dan lutut berwarna gelap sampai hitam, ukuran tubuhnya besar, kepala pendek, profil dahi cembung, tanduk pendek, punuknya besar, memiliki gelambir dan lipatan-lipatan kulit di bawah perut dan leher.

Keunggulan sapi PO antara lain dapat digunakan sebagai penghasil daging dan tenaga kerja, mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang panas, mampu mengonsumsi bahan pakan berkualitas rendah, antara lain jerami, performa reproduksinya baik (mudah berkembang biak), pertumbuhannya relatif cepat walaupun kualitas dan kuantitas pakannya tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Berdasarkan keunggulannya tersebut, sapi PO banyak dipelihara peternak di hampir seluruh pelosok Indonesia.  Salah satunya di Kabupaten Lampung Selatan terutama Kecamatan Tanjungsari dan disana sudah terbentuk kelompok peternak sapi PO.

Keseriusan peternak sapi PO di wilayah Tanjungsari dalam mengelola sapi PO mendapat perhatian dari Bupati lampung Selatan (Rycko Menoza). Bupati Lampung Selatan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor B/54/III.10/HK/2011 tertanggal 18 Februari 2011 tentang penetapan Kecamatan Tanjungsari sebagai kawasan pelestarian dan pengembangan plasma nutfah sapi PO.

Sapi-sapi PO di Kecamatan Tanjungsari tersebar di Desa Purwodadi Dalam, Wonodadi, Sidomukti, Wawasan, bangunsari, Kertosari, Mulyosari, dan Malangsari.  Pada 2016, peternak mendapat pembinaan dari Kementerian Pertanian dalam bentuk Sentra Peternakan Rakyat (SPR).

Berdasarkan hasil penelitian pada 2018, populasi sapi PO jantan dewasa di Kecamatan Tanjungsari sangat rendah, di Desa Purwodadi (9 ekor = 1,46%) dan Wonodadi (19,00 ekor = 3,98%) karena wilayah tersebut menggunakan inseminasi buatan untuk mengawinkan sapi-sapi betina yang birahi.

Populasi sapi betina lebih tinggi daripada sapi jantan, di purwodadi dalam 337 ekor (54,53%) di wonodadi 277 ekor (58,07%).  Interval kelahiran sapi PO betina di Purwodadi dalam 12,92 bulan, di Wonodadi 13 Bulan.  Service per conception (s/c) sapi PO betina di purwodadi dalam 1,8 dan di Wonodadi 1,9.

Jumlah kelahiran pedet selama satu tahun di Desa Purwodadi dalam 177 ekor dan di Wonodadi 110 ekor.  Pertumbuhan alami (Natural increase=NI) PO jantan di Purwodadi dalam 7,61% dan betina 21,04%, NI jantan di Wonodadi 6,08% dan betina 16,98%.

Berdasarkan ketentuan bahwa populasi sapi PO harus lebih dari 80% dibandingkan sapi bangsa lain, pelaksanaan uji performa berupa uji produktivitas sapi berdasarkan pertumbuhannya yang dilakukan secara rutin, dan uji survailance penyakit yang rutin dilakukan, maka wilayah Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan layak dinyatakan sebagai wilayah sumber bibit sapi PO.

Maju Cemerlang Faperta Kita.