FAPERTA BERKARYA “Teknologi Pengusir Hama Tikus Tanaman Padi Untuk Peningkatan Produktivitas Pertanian” Tahun 2018

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) pada hari Kamis tanggal 5 Juli tahun 2018 bertempat di Radar Lampung Televisi. Melalui Ketua Jurusan Teknik Pertanian FP Unila Dr. Ir. Agus Haryanto, M.P., Dosen Teknik Pertanian FP Unila Dr. Mareli Telaumbanua, S.T.P., M.Sc., beserta Mahasiswi jurusuan Teknik Pertanian FP Unila Rita Anggraini npm 1514071048 angkatan 2015 dan team melaksanakan program siaran Faperta Berkarya live on Radar Lampung Televisi dengan tema ” Teknologi Pengusir Hama Tikus Tanaman Padi Untuk Peningkatan Produktivitas Pertanian ” Tahun 2018.

Hama penyakit tanaman khususnya tikus sangat meresahkan petani di Indonesia, khususnya petani di desa Tulung Agung Kecamatan Gading Rejo Pringsewu Provinsi Lampung. Kehilangan produksi padi tiap musimnya mencapai 80%. Hal ini tentu sangat meresahkan petani kerena berdampak pada pendapatan mereka.

Hama tikus mampu menyerang bagian jaringan batang tanaman padi. Mulai dari bibit, masa pertumbuhan, masa panen dan masa penyimpanan. Serangan terhadap jaringan tanaman padi membuat tanaman tidak dapat melakukan metabolisme dengan baik hingga menyebabkan kematian.

Melalui program kreatifitas mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti RI tahun 2017-2018, jurusan Teknik Pertanian Fakulatas Pertanian Unila (TEP FP Unila) memenangkan usulan penelitian untuk membuat alat yang dapat menanggulangi permasalahan hama tikus di Indonesia.

Pada usulan proposal penelitian terhitung lebih dari 400.000 proposal dari Mahasiswa seluruh Indonesia yang di ajukan untuk mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) hanya 4.183 proposal yang didanai atau hanya ( 1,04 %).

Alat yang dirancang oleh Mahasiswa Fakultas Pertanian Unila merupakan alat pengusir hama tikus, dengan prinsip kerja alat yaitu sistem kendali mengeluarkan gelombang suara ultrasonic yang dapat mengganggu pendengaran hama tikus dan membuat ketidaknyamanan pada tikus sesuai dengan cakupan kerja alat yaitu 1200 m2.

Hama tikus peka terhadap gelombang ultrasonic kerena tikus memiliki jangkauan pendengaran antara 5-60 kHz (Heffner 2007) dan pendengaran hama tikus akan terganggu pada frekuensi di atas 37 kHz (Simeon et al, 2003).

Alat ini bekerja dengan dilengkapi system kendali yaitu mikrokontrol yang dihubungkan dengan sensor pasif infrared resistor (PIR) yang memiliki fungsi untuk mengontrol kinerja dari alat agar lebih efisien dan efektif untuk mendeteksi dan mengusir hama tikus sawah.

Alat yang diberi nama Sirkus ini (pengusir hama tikus) dilengkapi dengan panel surya untuk memenuhi kebutuhan energy listrik pada alat, sehingga tidak dibutuhkan sumber listrik dari PLN.

Keunggulan alat alat ini adalah, mampu ditempatkan di lokasi manapun karena dapat menghasilkan listrik mandiri.

Prinsip kerja alat ini ada dua, yaitu:

1. Pencegahan, yaitu sistem kendali aktif setiap 30 menit selama 0,5 menit.

2. Pengendalian, yaitu sistem kendali aktif selama tikus terdeteksi dalam jangkauan sensor.

Maju Cemerlang Faperta Kita.