Permasalahan Hama Tanaman Pada Program Upsus Pajale di Provinsi Lampung

Pada hari Kamis tanggal 1 Maret tahun 2018, bertempat di Radar Lampung Televisi. Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung, melalui Prof. Dr. Ir. F.X. Susilo, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Rosma Hasibuan, M.Sc., dan Dr. Ir. I Gede Swibawa, M.S., menghadiri program siaran Live Faperta Berkarya di Radar Lampung Televisi dengan topik, Permasalahan Hama Tanaman Pada Program Upsus Pajale di Provinsi Lampung.

Tantangan pertanian pada abad 21:

  • Memproduksi bahan pangan dan serat lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan populasi yang semakin tinggi dengan tenaga kerja pedesaan yang semakin berkurang.
  • Memproduksi bahan energi lebih banyak untuk pasar bioenergi yang sangat besar.
  • Berkontribusi terhadap pembangunan di negara-negara berkembang yang sangat tergantung kepada pertanian.
  • Mengadopsi metode produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan serta beradaptasi dengan perubahan iklim. Bioteknologi-Tantangan terjadinya ledakan populasi hama dan penyakit.

Pemerintah mencanangkan program UPSUS PAJALE dalam upaya peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai. Program ini dituangkan dalam SK Menteri Pertanian No. 03/Permentan/OT.140/2/2015, tentang Pedoman Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, Kedelai dan Kedelai melalui perbaikan Jaringan Irigasi, dan Sarana Pendukungnya.

Pemerintah mencanangkan tercapainya swasembada padi dan jagung serta kedelai melalui rehabilitas jaringan irigasi dan kegiatan pendukung yaitu: Pengembangan jaringan irigasi, optimasi lahan, Pengembangan SRI, GP-PTT, PAT-PIP Kedelai, PAT Jagung. Penyediaan sarana dan prasarana pertanian (benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian), pengendalian OPT dan dan dampak perubahan iklim, asuransi pertanian dan pengawalan/pendampingan Klik berita terkait Upsus Pajale.

Sasaran produksi tahun 2016: Padi sebesar 4,3 juta ton, Jagung sebesar 2,06 juta ton, Kedelai sebesar 14,03 ribu ton.

Perluasan areal tanam, peningkatan intensifikasi budidaya tanaman dalam skala luas seperti tanaman padi, jagung, dan kedelai di Provinsi Lampung dapat memunculkan permasalahan gangguan hama. Tanaman yang ditanam dengan pemupukan intensif dalam skala luas merupakan sumber makanan yang sangat cocok dan melimpah bagi hama sehingga memacu hama berkembangbiak secara pesat.

Di lain pihak, budidaya tanaman intensif kerap menggunakan pestisida kimiawi yang dapat membunuh musuh alami hama, akibatnya musuh alami yang semestinya berperan mengendalikan populasi hama secara alami tidak ada. Kondisi semacam ini yang memicu munculnya masalah hama dan penyakit tanaman, termasuk pada tanaman jagung di Lampung.

Banyak jenis hama yang mengganggu pertanaman padi, jagung, kedelai sejak dilapangan sampai di gudang penyimpanan. Selama tumbuh dilapangan tanaman mendapatkan gangguan hama dan penyakit sejak fase bibit hingga menjelang panen yang menyebabkan hilangnya produksi (crop loss) dan merugikan secara ekonomi.

Hama yang menyerang pertanaman padi sebagian besar dari golongan serangga, diantaranya; lalat bibit, ulat grayak, penggerek batang, pengisap bulir, dan wereng batang dan wereng daun. Selain kelompok serangga hama tikus dan keong emas menjadi masalah serius pada budidaya padi.

Hama  yang menyerang pertanaman jagung sebagian besar dari golongan serangga, diantaranya; lalat bibit, ulat tanah, ulat grayak, uret, penggerek batang, dan wereng batang. Selain kelompok serangga, tikus dan burung kerap menjadi hama pada pertanaman jagung.

Di Provinsi Lampung, belakangan ini hama yang dapat dikatakan sebagai hama baru yaitu wereng perut putih. Disebut wereng putih karena pada bagian perut (adomen) wereng betina terdapat lilin berwarna putih yang jelas tampak dengan mata kepala dan serangan wereng perut putih mulai muncul dan mendapat perhatian bagi FP Unila sejak akhir tahun 2016.

Kemudian pertanaman kedelai diserang oleh banyak jenis hama. Hama yang menyerang polong sering merugikan pada budidaya kedelai. Hama ini menyerang dengan cara menggerek atau mengisap polong kedelai.

Berdasarkan informasi dari petani dan seorang petugas perusahaan benih jagung, wereng perut putih sudah meluas keberadaannya di Provinsi Lampung. Serangan hama ini sangat merugikan, produksi jagung menurun sampai  30% dikarenakan dari serangan hama wereng perut putih. Tongkol tanaman terserang wereng yang berukuran kecil ini, akhirnya tidak mencapai pada ukuran optimum, serta biji kempis dan rapuh yaitu mudah pecah ketika dirontokkan dengan mesin.

Dalam produksi yang normal jagung petani dapat mencapai produksi 7 ton/ha, karena ada serangan wereng ini produksi jagung hanya mencapai 4-5 ton. Akibatnya petani mengalami kerugian sebab karena serangan hama wereng perut putih.

Peran Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila).
Menyikapi kasus munculnya wereng perut putihJurusan Proteksi tanaman FP Unila membentuk tim peneliti untuk wereng pada tanaman jagung di Provinsi Lampung. Kegiatan yang telah dilakukan yaitu survei ke lapangan dan identifikasi wereng di laboratorium untuk menentukan jenis wereng jagung tersebut.

Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa serangan wereng jagung dilokasi survei sudah parah yaitu tanaman telah tampak seperti terbakar (hopper burn) yaitu gejala serangan yang khas untuk hama wereng apabila populasinya sudah sangat tinggi.

Populasi wereng pada jagung berumur 70 harisetelah tanam (hst) dapat mencapai lebih dari 500 individu tiap helai daun atau mencapai 4500 individu /tanaman, karena jumlah helaian daun jagung rata-rata 9. Selain itu, ditemukan juga bahwa pola tanam pada agroekosistem  jagung dilokasi survei  menguntungkan bagi hama wereng.

Petani menanam jagung terus-menerus, yaitu sesaat setelah panen petani menanam jagung kembali, sehingga dalam hamparan yang luas terdapat umur tanaman yang bervariasi. Dari hasil pengamatan dapat diketahui serangan wereng sudah mulai muncul sejak tanaman berumur dua minggu setelah tanam, pada tanaman muda ini sudah terdapat 5-10 individu wereng tiap tanaman.

Wereng perut putih jagung tergolong serangga ordo Hemiptera famili Delphacidae; meletakkan telur pada lubang-lubang yang dibuat induknya sepanjang tulang daun jagung. Kotoran wereng ini berupa embun madu yang menyebabkan daun berwarna hitam. Karena perilakunya ini maka serangga wereng pada tanaman jagung lebih tua dari jauh dapat dikenali yaitu, daun tanaman tampak mengering, dan berwarna hitam karena ditumbuhi embun jelaga.

Penelitian yang dilakukan oleh Dosen FP Unila imaksudkan untuk mengkaji bioekologi hama wereng jagung. Hasil kajian ini akan digunakan sebagai landasan dalam pengelolaan wereng jagung agar tidak mencapai tingkat populasi yang merugikan secara ekonomi.

Strategi pengendalian hama wereng perut putih jagung ini adalah dengen menerapkan konsep PHT, yaitu pengelolaan hama terpadu. Konsep HPT dalam pengelolaan hama adalah mengelola ekositem secara bijaksana agar populasi hama tidak berkembang sampai tingkat yang merugikan secara ekonomi.

Dalam praktiknya terdapat empat unsur PHT yaitu;
1. Budidaya tanaman sehat.
2. Pengamatan secara rutin.
3. Pemanfaat musuh alami.
4. Petani sebagai ahli PHT atau petani dapat mengambil keputusan dalam pengendalian hama.

Beberapa teknik pengendalian hama yang dapat diterapkan yaitu;
1. Penanaman tanaman tahan.
2. Pengendalian dengan insektisida.
3. Pengendalian hayati, yaitu memanfaatkan musuh alami yang dapat berupa pradtor, paraitoid dan patogen.

Pemanfaatan PHT untuk penyakit bulai dilakukan dengan menggunakan kombinasi varietas tahan dan fungisida sintetis. Varietas-varietas hibrida yang sekarang beredar di pasar umumnya tahan terhadap penyakit bulai. Adapun fungisida sintetis yang sekarang beredar efektif mengendalika bulai adalah metalaksil, mefenoksam, dan dimetomorf.

Pemerintah telah mensyaratkan benih jagung yang beredar di pasar harus sudah diperlukan dengan fungisida sintetis. Beberapa fungisida baru juga telah dicoba di lapangan, hasilnya efektif menekan penyakit bulai. PHT untuk penyakit yang dilakukan dengan menggunakan varietas tahan dan budidaya tanaman sehat.

Maju Cemerlang Faperta Kita.