Prof. Wan Abbas Zakaria (Dekan FP Unila 2011-2015): Pendekatan ‘Cluster’ dalam Agrobisnis

dekan wan abbas

Prof. Wan Abbas Zakaria

PADA era 1990-an, Lampung dicanangkan sebagai bumi agrobisnis oleh Menteri Pertanian saat itu. Dalam seminar Revitalisasi Pertanian dan Perkebunan yang digelar Lampung Post, 26 Januari 2012, yang dihadiri Ketua DPD Irman Gusman, Lampung kembali dicanangkan sebagai provinsi pertanian.Hal itu tepat karena Lampung sebagai bumi agrobisnis serta lumbung pangan dan bioenergi nasional yang menempati posisi strategis. Untuk produksi ubi kayu, Lampung menempati posisi pertama di Indonesia, padi (7), jagung (3), gula, nanas, udang, eksportir kopi terbesar, dan lumbung ternak utama nasional.

Ke depan, sebagai pusat pengembangan agroindustri, Lampung akan menjadi tujuan utama investasi domestik dan asing serta sebagai pengaman ketahanan pangan nasional
Cluster’ Agrobisnis

Sebagai sebuah sistem, agrobisnis terdiri dari beberapa subsistem, yakni pengadaan sarana produksi pertanian, usaha tani, pengolahan hasil pertanian, pemasaran, serta sarana dan prasarana penunjang, kelembagaan, politik, dan lingkungan (Zakaria, 2010). Efisiensi produksi pada masing-masing subsistem merupakan syarat pengembangan agrobisnis.

Namun, belumlah cukup jika tidak ada lembaga yang mengoordinasikan seluruh subsistem tersebut dengan biaya minimal. Jika pasar tidak mampu mengoordinasikan subsistem, organisasi bisnis petani menjadi sangat penting sebagai wadah koordinasi atau integrasi. Di sinilah pentingnya peran kelembagaan Masyarakat Agrobisnis Jagung (MAJ) Lampung atau kemitraan dalam membangun cluster agrobisnis jagung yang kompetitif.

Keberadaan organisasi bisnis petani (kelompok tani dan koperasi pertanian) sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, teknologi, kelembagaan atau aturan main, serta faktor lingkungan. Pemberdayaan kelembagaan kelompok tani secara ekonomi dapat dipandang sebagai upaya menghindari biaya transaksi tinggi yang harus dikeluarkan para anggotanya (karena adanya masalah free rider, komitmen, loyalitas, dan faktor eksternal) dalam mencapai tujuan organisasi (peningkatan produksi, pendapatan dan lain-lain).  SEBAGAI bumi agrobisnis, pembangunan Lampung harus menempatkan pertanian sebagai prioritas yang diikuti dengan industri hilir bernilai tambah tinggi, dalam kawasan tertentu yang dikenal dengan pengembangan agrobisnis dengan pendekatan cluster.

Sebagai contoh cluster kopi di Lambar, jagung (Lamtim), ubi kayu (Lamteng), dan kakao (Pesawaran). Pembangunan agrobisnis melalui cluster akan lebih efektif dan efisien.

Cluster adalah aglomerasi perusahaan yang di dalamnya terdapat kerja sama strategis baik vertikal maupun horizontal dan komplementer, serta memiliki hubungan sensitif (Depperin, 2005).

Dalam pendekatan cluster suatu industri atau beberapa industri sejenis, industri hilir, pemasok industri, penyedia jasa khusus (kemasan, pendampingan), industri terkait (pemasok teknologi, distribusi, (customer), lembaga keuangan, penyedia infrastruktur, institusi pendidikan, dan pelatihan semuanya terkonsentrasi secara geografis. Rangkaian keterkaitan ini menjelaskan perubahan nilai yang terjadi mulai bahan baku sampai produk akhir. Tidak hanya bahan pangan, tetapi juga bahan nonpangan.

Sebagai contoh cluster kopi di Lambar mendiversifikasi produk untuk memperluas pasar. Champion atau industri inti mengolah biji kopi menjadi kopi bubuk dan kopi roasted kini sedang dikembangkan kopi mix dan kopi instan.

Pembangunan cluster harus didukung Pemerintah Pusat dan daerah. Dukungan tersebut, pertama, berorientasi pada perusahaan seperti dukungan finansial, arahan, dan konsultasi. Kedua, dukungan infrastruktur fisik, institusi riset, pusat pelayanan khusus, dan pengembangan teknologi. Ketiga, penyediaan pusat informasi teknologi, bisnis, dan pasar/ekspor. Serta dukungan pelatihan, penelitian, promosi, dan dukungan kolaborasi.

Kreativitas

Daya saing agrobisnis Indonesia mengalami tantangan dan peluang pada milenium ketiga sekarang, terutama setelah globalisasi nyaris menjadi keniscayaan dan batas-batas negara semakin kabur. Dalam situasi global itulah kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan kreativitas individu-individu pelaku pembangunan.

Hanya pemerintah dan pebisnis yang kreatif dan efisienlah yang mampu memenangkan persaingan global. Jika hal tersebut tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin pelaku agrobisnis dalam negeri hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

Langkah-langkah strategis yang harus diambil adalah dengan terus meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif agrobisnis melalui pengembangan sumber daya manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Zakaria, 2010). Terdapat empat faktor penting dalam menentukan daya saing suatu bangsa, daerah, dan perusahaan: tersedianya SDM yang kreatif, adanya jaringan yang luas dan produktif, penerapan iptek sesuai zaman, dan tersedianya SDA yang memadai.

Keberhasilan pengembangan cluster agrobisnis sangat bergantung kepada peran aktif seluruh stakeholder, baik pemerintah, pengusaha, masyarakat petani, maupun para ilmuwan (Zakaria, 2010). Peran pemerintah sangat strategis terutama menyediakan infrastruktur dan regulasi. Peningkatan infrastruktur seperti jalan, terminal agrobisnis, perbankan, dermaga ekspor, transportasi darat, laut, dan udara, subsidi ekspor, subsidi agrobisnis, dan irigasi merupakan keharusan.

Dunia usaha juga harus menjalin kerja sama yang sinergis dengan para petani guna merebut pangsa pasar, menghindari praktek eksploitasi dan persaingan bisnis tidak sehat, dan mengembangkan penelitian pertanian dan agroprosessing serta pemasaran. Media massa juga dapat memberi ruang khusus untuk informasi secara periodik produk pertanian, perdagangan, temuan-temuan teknologi, dan sebagainya.

Sementara itu, petani berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Memupuk budaya kewirausahaan dan mengedepankan rasionalitas dalam usaha tani.

Optimalisasi peran pemerintah, dunia usaha, dan petani sangat menentukan derajat daya saing petani dan produk cluster agrobisnis. Akhirnya, pengembangan agrobisnis melalui pendekatan cluster secara terencana dan berkelanjutan akan meningkatkan daya saing Lampung. Sehingga, mampu menempatkan produk agrobisnisnya pada posisi yang bermartabat dalam pecaturan bisnis di pasar domestik dan global.

Optimalisasi Peran

Optimalisasi dilakukan dengan meningkatkan tindakan bersama secara efisien dalam menangkap manfaat ekonomi, dari adanya skala usaha baik dalam proses produksi, pemasaran, maupun dalam memperoleh sarana produksi melalui pemberdayaan kelembagaan petani, kemitraan, dan koperasi. Melakukan penataan dan penguatan kelembagaan ekonomi petani, sehingga mampu membangun jaringan kerja sama dengan para pihak dalam meningkatkan daya saing produk, pendapatan, dan kesejahteraannya. Selain itu, bersama pihak swasta menciptakan suasana usaha yang harmonis sehingga skala usaha optimal pada setiap pihak dapat dicapai.

Meningkatkan penerapan teknologi budi daya dan pengolahan secara berkelanjutan serta melakukan diversifikasi usaha guna mengantisipasi adanya gejolak eksternal (pasar luar negeri). Bersama swasta juga berupaya menguasai informasi pasar dalam rangka memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pangsa pasar. (*)  Selengkapnya Profil Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. klik disini.

Sumber:www.lampungpost.com