Antisipasi Penyakit Ikan dengan Manajemen Kesehatan Ikan Secara Terpadu

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) Jurusan Perikanan dan Kelautan (PIK) melalui Munti Sarida, SPi., M.Sc., Ph.D., Dr. Agus Setyawan, S.Pi., M.P., dan Hilma Puteri Fidyandini, S.Pi., M.Si., melaksanakan siaran Faperta Berkarya dengan tema Antisipasi Penyakit Ikan dengan Manajemen Kesehatan Ikan Secara Terpadu, bertempat di Radar Lampung Televisi, Kamis, (03/09/2020).

Penyakit ikan merupakan salah satu kendala dalam kegiatan budidaya perikanan. Berdasarkan penyebabnya, penyakit ikan dibedakan menjadi penyakit infeksi dan non-infeksi.

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh agen mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur, yang masuk ke dalam tubuh inang dan menyebabkan penyakit pada ikan. Sedangkan penyakit non-infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh selain agen mikroorgansime patogen.

Contoh penyakit non-infeksi antara lain karena ikan, kekurangan oksigen, kualitas air yang buruk, mal nutrisi, bawaan genetik, dan yang lainnya.

Munculnya penyakit, baik infeksi maupun infeksi, pada budidaya perikanan akan berdampak pada penurunan produksi.oleh karena itu, penting untuk mengantisipasi penyakit dalam kegiatan budidaya perikanan dengan manajemen kesehatan ikan.

Manajemen kesehatan ikan merupakan upaya mengatur, mengkondisikan, dan menerapkan teknik-teknik tertentu untuk mencegah, mengobati, dan memusnahkan penyakit ikan dengan aman dan ramah lingkungan.

Kewajiban menerapkan manajemen kesehatan ikan bukan hanya untuk para pembudidaya tapi semua stakeholders yang terlibat dalam kegiatan budidaya perikanan seperti pembenihan, pemerintah, industri yang terkait dengan budidaya perikanan sepert industri pakan, industry obat-obatan, industri bahan dan peralatan penunjang (alat pengukur kualitas air, karamba jaring apung, kolam, dsb).

Konsep terjadinya penyakit
Timbulnya penyakit adalah suatu proses yang dinamis dan merupakan interaksi 3 faktor yaitu antara inang (host), jasad penyakit (patogen) dan lingkungan. Secara umum, dalam kegiatan budidaya ikan, apabila hubungan ketiga faktor adalah seimbang maka tidak timbul penyakit.

Penyakit akan muncul jika lingkungan kurang optimal yang menyebabkan daya tahan tubuh ikan menurun, dan keseimbangan terganggu. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, penyakit bisa muncul ketika lingkungan yang sangat buruk sehingga menimbulkan penyakit non-infeksi atau ada penyebaran mikroorganisme tertentu yang memiliki tingkat keganasan yang tinggi sehingga langsung menyebabkan penyakit infeksi meskipun lingkungan budidaya sudah dibuat seoptimal mungkin.

Dengan mengetahui konsep terjadnya penyakit pada ikan, kita akan lebih mudah dalam mengantisipasi munculnya penyakit. Konsep manajemen kesehatan ikan secara terpadu ini harus dijalankan oleh semua stakeholders ,baik oleh pembudidaya, pemerintah, industry terkait, maupun, perguruan tinggi.

Upaya pencegahan (preventif)
Tindakan pencegahan penyakit dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Oleh pembudidaya ; Pemilihan bibit yang unggul, Penerapan biosekuriti, Menjaga kualitas air, Manajemen pakan yang baik, Peningkatan imunitas ikan, Cara budidaya ikan yang baik (CBIB).

b. Oleh Pemerintah ; Monitoring dan surveillance secara berkala, Pencegahan masuknya penyakit di pintu masuk daerah atau negara (BKIPM), vaksinasi masal, Sosialisasi penyakit dan pencegahannya, Jasa pengujian penyakit secara cepat dan akurat.

c. Industri yang terkait budidaya ; Produksi pakan berkualitas dengan harga terjangkau, Pendampingan budidaya di lapangan, Konsultasi masalah budidaya dan me-record keluhan pembudidaya untuk bersama-sama mencari solusinya, Alat rapid test penyakit ikan.

d. Perguruan Tinggi ; Kurikulum tentang penyakit dan kesehatan ikan, Riset tentang penyakit dan manajemen kesehatan ikan, Pengabdian kepada masyarakat terkait penyakit dan manajemen kesehatan ikan,

Upaya Pengobatan (curative)
Tindakan pengobatan hanya dilakukan ketika ikan sudah dinyatakan sakit atau suatu wabah sudah terlanjur mewabah (outbreak) di suatu wilayah. Beberapa upaya pengobatan penyakit ikan dapat dilakukan sebagai berikut:

a. pembudidaya : melakukan pengobatan secara mandiri untuk dengan pengobatan herbal atau antibiotic sesuai anjuran dari dokter hewan.

b. Pemerintah : pembagian obat-obatan yang sesuai dengan jenis penyakit yang mewabah

c. Industri: penyediaan obat herbal dan non-herbal untuk pembudidaya ikan

d. Perguruan Tinggi : melakukan riset tentang obat-obatan herbal maupun potensi senyawa antibiotik untuk bakteri yang sudah resisten, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.

Upaya Pemusnahan (eradikasi)
Untuk lalu lintas media pembawa penyakit, tindakan pemusnahan hanya dilakukan oleh pihak yang berwenang (Badan Karantina Ikan) teradap media pembawa penyakit yang masuk ke dalam HPIK Golongan I dan belum ada obatnya. Contoh penyakit yang saat ini sedang mewabah adalah AHPND (acute hepatopancreatic necrosis disease) atau EMS (early mortality syndrome) pada udang.

Namun, pembudidaya dapat juga melakukan tindakan pemusnahan secara madiri jika kolam atau tambak yang dibudidayakan secara meyakinkan positif terinfeksi penyakit ganas tertentu. Dengan pertimbangan jika dibiarkan, penyakit akan semakin menyebar luas dan membahayakan kolam atau tambak budidaya lainnya. Pemusnahan bisa dilakukan dengan pembakaran, penimbunan dalam tanah, atau penonaktifan dengan bahan kimia seperti kaporit atau yang lain.

Dengan konsep manajemen kesehatan ikan terpadu baik pembudidaya, pemerintah, industri, maupun perguruan tinggi diharapkan bisa meminimalisir penyebaran penyakit ikan dan masyarakat pembudidaya ikan bisa meningkatkan produksi hasil budidayanya. (Sumber : Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 2020)

Maju Cemerlang Faperta Kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesian