“Blank Spot Sinyal dan 100 Meter yang menentukan”

prof.yusnita-fp-unilaIbu Prof. Yusnita, begitu mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila) memanggilnya.  Prof. Dr. Ir. Yusnita, M.Sc., merupakan salah satu Profesor di Universitas Lampung dan Fakultas Pertanian pada khususnya, di bidang Bioteknologi Pertanian.  Pendidikan Sarjana diselesaikan di Institut Pertanian Bogor, Pendidikan Magister di The University of Kentucky, Lexington, USA dan Pendidikan  Doktor di Institut Pertanian Bogor.

Wanita kelahiran Jombang Tahun 1962, yang berkacamata minus dan berhijab ini yang selalu ramah terhadap siapa saja, sehari-hari sebagai Tenaga Pendidik/Dosen Program Sarjana maupun Magister di Jurusan Agroteknologi FP Unila, mengampu mata kuliah diantaranya Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan, Fisiologi Tanaman dan Kultur Jaringan selalu aktif dalam penelitian.  “Semenjak jadi dosen, khususnya setelah meraih Magister Degree dari Kentucky (The University of Kentucky, Lexington, USA) secara intensif saya meneliti dan mencari grant-grant (dana penelitian) dengan menulis proposal ke DIKTI misalnya, dengan penelitian yang sifatnya kompetitif dan alhamdulillah dari tahun ke tahun selalu mendapatkan dana penelitian”, ujar Prof. Yusnita

Yusnita dikukuhkan sebagai profesor di bidang Bioteknologi Pertanian dengan Orasi Ilmiah dengan judul “Kultur Jaringan Tanaman sebagai Teknik Penting Bioteknologi untuk Menunjang Pembangunan Pertanian” pada 4 Agustus 2015.  “Karena saya seruis dan sibuk meneliti maka saya sempat telambat dalam meraih Profesor. Karena sibuk meneliti maka menulisnya yang keteter.  Pernah setahun lebih tidak pernah menulis sama sekali, padahal tulisan (ke Jurnal) itulah yang Profesorship”, terung suami dari Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc., yang sekaligus kolega dosen di FP Unila.

Belum lama ini Yusnita mendapatkan penghargaan dari Indofood di Jakarta, seremoni penyerahan penghargaan diberikan pada Simposium Pangan Nasional: Agenda Kemitraan Riset Nasional: Inovasi untuk Ketahanan Pangan Mandiri dan Berdaulat, di Borobudur Hotel, 5 November 2015.  Yusnita salah satu dari 7 (tujuh)  peneliti unggul dari Perguruan Tinggi se Indonesia diantaranya dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Papua, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, dalam bidang Ketahanan Pangan dan Gizi.

“Saya sendiri tidak menduga akan mendapat penghargaan, saya meneliti selama ini ya tidak untuk meraih penghargaan, saya meneliti untuk memecahkan permasalahannya dan signifikan dampaknya untuk Lampung secara khusus dan Indonesia secara umumnya.  Beberapa waktu yang lalu saya diminta (curriculum) vitae (oleh Indofood) dan tidak tahu untuk apa.  Belakangan diberi tahu bahwa vitae ini akan diajukan meraih penghargaan tetapi akan diadu dengan peneliti dari seluruh Indonesia dengan topik pangan dan gizi”, terang Profesor bidang Bioteknologi Pertanian ini.

Penilaian oleh Dewan Pakar didasarkan dari beberapa kriteria, diantaranya track record, konsistensi, dan peneliti belum pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional.  “Saya tanya ke Dewan Pakar, memangnya apa kriteria penilaiannya?. Yang pertama ada konsistensi dari materi yang diteliti, konsistensi bukan berarti itu tetap, tetapi ada benang merah penelitian dari dulu hingga sekarang.  Saya konsisten meneliti dengan metode kultur jaringan untuk mencari protokol untuk memproduksi bibit misalnya kacang, anggrek,kelapa sawit dan pisang, atau untuk pemuliaan tanaman misalnya mencari tanaman yang nantinya tahan terhadap hama dan penyakit dan lain-lain.  Yang kedua kriterianya adalah track record nya misalnya konsistensi materi penelitian, nilai kompetitif, publikasi ke jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal intenasional yang terindeks Scopus dan penulisan buku ber ISBN.  Kriteria terkahir adalah peneliti belum pernah mendapatkan penghargaan secara nasional, walaupun pada (tataran) tingkat Unila saya pernah menerima penghargaan Terbaik I pada tahun 2010 dan Terbaik III pada tahun 2014 Dosen Berprestasi,” terang Ibu dari Aby Hapsari, S.T.P dan Indira Hapsarini.

Momen penilaian oleh Dewan Pakar juga sangat menegangkan.  Setelah melewati penilaian curriculum vitae, maka tahapan berikutnya adalah wawancara lewat telpon dihadapan 9 (sembilan) orang Dewan Pakar.  “Selama ini saya sudah lama tidak liburan, tibalah kesempatan saya (liburan) ke Lombok.  Pada saat dinner (makan malam) tiba tiba ada telpon dengan nomor yang belum dikenal, ternyata telpon dari (Dewan Pakar) Jakarta untuk janjian wawancara by phone dan di loudspeaker ke 9 anggota dewan pakar, dan oke waktu telah disepakati.  Ternyata hari yang telah disepakati kebetulan pas tour, maka saya minta ijin berhenti sejenak pada sopir dan rombongan untuk berhenti sejenak dengan alasan yang saya ceritakan.  Berhenti pada ketinggian 2700 mdpl di Gunung Rinjani, ternyata tidak ada sinyal..gawat..nah saya setengah berlari sekitar 100 meter dapetlah (indikator di telepon genggam) sinyal selular 2 garis, begitu 2 garis muncul langsung kriiiing…telpon dari dewan pakar datang dan akhirnya wawancara by phone dan diloudspeaker ke 9 (sembilan) anggota dewan pakar (tidak bisa dibayangkan momen tersebut terlewat karena tidak ada sinyal selular).” terang Yusnita sambil berapi-api.

Dari wawancara tersebut tampaknya dewan pakar tertarik dengan pisang, dalam konteks ketahanan pangan, pisang sangat berarti bagi Indonesia dan Dunia.  “Pisang sangant penting, karena selain sebagai buah meja, pisang juga sebagai sumber karbohidrat yang sangat baik selain dari beras, apalagi bagi penderita diabetes (melitus) sangat dianjurkan (oleh dokter) untuk mengkonsumsi karbohidrat dari pisang rebus. Pisang juga sebagai cash crop, artinya juka masyarakat membudidayakan pisang dengan baik maka jika kepepet butuh uang maka bisa menjual (buah) pisang, 2 sisir untuk sendiri sisir yang lainnya dijual menjadi uang,”papar Yusnita sambil tersenyum.

Lampung mempunyai keragaman pisang yang sangat tinggi. Yusnita dan Tim sekuat tenaga untuk mengeksplor dan mengoleksi plasma nutfah pisang ke Unila, khususnya pisang yang unggul dan bagus misalnya Pisang Ambon Kuning, Kepok Kuning, Raja Bulu, dan Pisang Tanduk, sembari mencari protokol untuk perbanyakannya.  “Dan kami sudah menemukan dan menguasai protokol kultur jaringan untuk perbanyakan pisang yang bagus tersebut. Dengan begitu harapan kedepan seandainya pemerintah (atau pihak lain) ada proyek membutuhkan bibit pisang yang berkualitas dan dalam jumlah yang besar maka Unila sudah punya koleksi bibit (pisang) yang bagus, kemudian bibit yang bagus tersebut disebarkan ke masyarakat (dan akhirnya bisa mensejahterkan masyarakat)”, terang Yusnia bersemangat.

Yusnita yang konsisten dalam materi penelitian kultur jaringan ini mempunyai semboyan hidup “Menjalani hidup seperti air mengalir, berusaha setiap hari lebih bermanfaat bagi orang, dan jika kita mempermudah urusan orang maka saya yakin nantinya saya pun dipermudah urusannya oleh orang lain” mempunyai banyak hal yang paling membahagiakan dan mengesankan dalam hidup diantaranya bisa bertemu dan bimbingan langsung dengan Profesor T. Murashige* dan Robert L. Geneve**.

“Saya kan menekuni kultur jaringan, nah, “mbahnya” kultur jaringan sampai sekarang (menjadi rujukan) dan digunakan di seluruh dunia adalah T. Murashige dan F. Skoop. Beliau adalah penemu Media MS (dalam kultur jaringan) sejak tahun 1962 (saya lahir tahun 1961) Murashige sudah mempublikasi Media MS bersama gurunya yaitu F. Skoop dan sampai sekarang masih digunakan di seluruh dunia. Nah saya sewaktu kuliah di Amerika bersyukur bisa berguru langsung dan bimbingan dari Profesor “mbahnya” kultur jaringan  T. Murashige tentang kultur jaringan, morfologi tanamana dll, dan saya selalu dikasih jurnal-jurnal dari beliau, secara nggak langsung saya punya kesempatan transfer ilmu lewat tulisan-tulisan jurnal beliau.  Kemudian yang mengesankan berikutnya adalah ketemu dan bimbingan Robert L. Geneve. Sewaktu saya (kuliah) di Kentucky, advisor saya adalah Robert L. Geneve.  Beliau adalah penulis buku Hartmann&Kester’s Plant Propagation, bahkan nama dan (data) hasil penelitian saya dimasukkan ke buku beliau.  Walaupun sedikit, saya sangat berkesan karena buku tersebut (sangat terkenal) dan digunakan di seluruh dunia.  Nah, pada  tahun 2013, buku Hartmann&Kester’s Plant Propagation edisi yang terbaru yaitu edisi ke 8 tahun 2011 dihadiahkan ke saya oleh Robert L. Geneve penulisnya langsung lewat undangan dinner (makan malam) yang indah dan syahdu disambut ramah oleh beliau istri dan anak-anaknya.  Waktu itu di Unila (bukunya) belum ada, tetapi saya sudah punya bukunya diberikan oleh penulisnya langsung hehehe”, pungkas Yusnita.

Ket:

*  Toshio Murashige is a professor emeritus of University of California Riverside in plant biology.

** Robert L. Geneve  is a professor of Department of Horticulture University of Kentucky.

 

Heru/Ades/Agung.
Editor Heru.

Berita Terkait:

Biodata Prof. Dr. Ir. Yusnita, M.Sc. 

Prof.Dr.Ir. Yusnita, M.Sc. mendapatkan Penghargaan dari Indofood

Fakultas Pertanian Unila Menambah 2 Profesor lagi

Tulisan terkait dengan Sosok/Profil lainnya klik disini