Faperta Berkarya “Kontinuitas Produksi Tanaman Buah Buahan Musiman” FP Unila 2020

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP. Unila) Jurusan Agroteknologi melalui Dr. Ir. Agus Karyanto (ahli bidang Fisiologi Tanaman Buah), Dr. Ir. Suskandini Ratih dosen (ahli bidang Ilmu Penyakit Tanaman), dan Ir. Rugayah, M.P. (ahli bidang Ilmu Hortikultura) melaksanakan siaran Faperta Berkarya dengan topik pembahasan Kontinuitas Produksi Tanaman Buah-buahan Musiman: Agar Tanaman Buah Produksinya Melimpah, bertempat di Radar Lampung Televisi, Kamis, (19/3/2020).

Saat ini hampir seluruh wilayah Indonesia, khususnya Provinsi Lampung sedang musim panen raya buah musiman, seperti: durian, manggis, duku, cempedak, dan pada bulan Oktober sampai dengan Desember yang lalu, panen rambutan dan mangga.

Adanya perubahan iklim, panen buah-buahan musiman sering meleset dan tidak bersamaan sehingga sulit diprediksi.

Buah-buahan musiman adalah buah-buahan yang panenya hanya setahun sekali karena pembungaannya sangat bergantung pada kondisi iklim kering, atau lebih spesifik dengan bulan kering.

Menurut klasifikasi iklim Schmit dan Ferguson, bulan kering adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 60 ml/bl. Kondisi ini sangat dibutuhkan untuk pemacuan pembungaan pada jenis buah-buahan musiman.

Lamanya masa bulan kering bergantung jenis buah-buahan, umumnya berkisar 3 bulanan, tetapi ada yang lebih singkat atau bahkan lebih lama.

Buah-buahan musiman ini dilihat dari tipe pertumbuhan tanamannya tergolong tanaman tahunan berkayu, yang berumur panjang.

Ada jenis tanaman buah-buahan tahunan berkayu yang pembungaannya tidak bergantung pada kondisi bulan kering, misalnya alpukat, belimbing, sirsak, dan sawo.

Sebaliknya ada juga buah-buahan yang tidak berkayu/herbaceous yang sebagian ahli menggolongkan sebagai tanaman buah semusim, karena indukannya hanya dapat dipanen sekali lalu mati.

Tetapi, berhubung tanaman ini masih terus hidup dan berproduksi karena memiliki anakan dan mampu melanjutkan proses produksi, maka lebih tepat dikenal dengan istilah “perennial monokarpik”.

Contoh tipe buah-buahan ini adalah nanas dan pisang, berbeda dengan tanaman papaya tergolong tanaman buah tahunan tidak berkayu, namun umurnya tidak selama buah-buahan berkayu, dan tidak memiliki anakan.

Produksi tanaman buah musiman juga ada kalanya pada suatu tahun produksi melimpah (panen raya) atau on-year, namun pada tahun berikutnya produksinya menurun atau off-year.

Kondisi demikian disebut beannual-bearing/alternate-bearing, sangat merugikan petani buah karena dengan produksi setiap tahunnya berfluktuasi sulit untuk menembus pasar ekspor.

Salah satu ketentuan untuk menembus pasar eksport adalah terpenuhinya ketersediaan produk yang sesuai dengan pesanan atau kekontinuitasan produksi.

Selain itu, kerugian lain adanya fluktuasi produksi adalah terjadinya penurunan harga produk buah yang sangat drastis karena tidak ada keseimbangan antara persediaan dengan permintaan, sehingga produk tidak semuanya terserap oleh konsumen.

Oleh karena itu perlu adanya pengaturan kekontinuitasan produksi dengan mengatur pola pembuahan di luar musim.

Penerapan teknologi produksi di luar musim, yaitu mempercepat awal dan memperlambat akhir musim buah, maka perentangan periode panen menjadi lebih panjang sehingga fluktuasi harga menjadi tidak begitu tinggi.

Penerapan teknologi off-season juga dapat digunakan untuk mengatasi sifat alternate bearing atau biennial bearing pada pohon buah-buahan.

Yaitu suatu fenomena dimana pohon tertentu berbuah banyak pada satu tahun (on-year) kemudian tahun berikutnya tidak berbuah atau hanya berbuah sedikit (off-year).

Teknologi memunculkan buah di luar musim disebut teknologi off-season. Tujuannya ada dua, yaitu :

(1) murni motif ekonomi yang ditujukan untuk menaikkan harga komoditas buah-buahn jauh lebih tinggi dibandingkan ketida dalam musimnya (on-season).

(2) sebagai implemnetasi dari kebijakan pemenuhan buah-buahan masyarakat agar tersedia sepanjang tahun.

Contoh komoditas buah-buahan yang sudah teruji berhasil dalam penerapan teknologi off-season adalah lengkeng, durian, mangga, manggis, apel, jeruk, dan jambu air.

Teknologi pembuahan di luar musim dapat dlakukan dengan berbagai cara yaitu:

(1) secara mekanik/fisik, (2) secara kimia /hormonal, dan (3) gabungan di antara keduanya.

Secara Mekanis/Fisik. Sebenarnya pada jaman dulu Teknologi off-season ini sudah diterapkan, walau mungkin kita melakukannya dengan cara tak sengaja atau mungkin hanya ikut-ikutan saja.

Seperti cara mekanis antara lain dengan cara: kerat, prunning/pemangkasan, pelukaan, pengikatan, dan stres air.

Teknologi pembuahan di luar musim. Cara terkini yang terukur dan paling banyak dipilih adalah dengan menggunakan bahan kimia berbahan aktif zat pengatur tumbuh (ZPT), salah satunya adalah paklobutrazol.

Pada prinsipnya teknologi aplikasi hormon paklobutraziol ini mengubah fisiologis tanaman dengan cara menghambat fase pertumbuhan vegetatif dengan peran hormon atau senyawa kimia tertentu, agar muncul fase generatif -bunga dan buah.

Hal penting lain kecuali musim buah yg mengalami on-season dan off-season. Apakah ada kendala lain untuk mempertahankan kontuinitas produksi buah buahan musiman?, misalnya dari segi OPT (organisme pengganggu tanaman).

OPT dapat menjadi masalah bagi kontinuitasan produksi tanaman buah buahan.

Untuk OPT ini ada hama yaitu hewan yang memakan tanaman buah buahan dan ada mikroorganisme berupa jasad renik yang mengganggu fisiologi tanaman.

Kita ketahui untuk pohon buah buahan berkayu ini maka penggerek batang, penggerek ranting sangatlah merugikan, karena menggerek bagian kayu pada batang pohon.

Akibat adanya penggerek tersebut menyebabkan bagian cabang atau batang terluka (berlubang) maka akan membuka peluang terjadinya infeksi susulan yang berasal dari jasad renik sehingga akan turut memperparah kerusakan tanaman.

Pada kondisi bagaimana hama ataupun jasad renik ini mengganggu pertanaman buah- buahan.

Yaitu, seperti halnya kesehatan kita, keadaan lingkungan tumbuh yang kurang mendukung misalnya kotor, lembab/kurang cahaya dan sirkulasi udara, kurang bersih, dan kurang hara yang disebabkan karena kurangnya pemeliharaan.

Seperti drainasenya jelek, tidak dilakukan pengendalian gulma, kurang memperhatikan 3 Tepat pemupukan (Tepat Dosis, Tepat Jenis, Tepat Waktu) dan kurang pemangkasan sehingga lingkungan tersebut menurunkan ketegaran tanaman.

Kondisi tersebut akan menyebabkan tanaman lemah dan rentan diserang hama dan terinfeksi oleh patogen.

Oleh karena itu dalam budidaya tanaman, khususnya buah-buahan harus memperhatikan lingkungan tumbuh yang sesuai.

Mengkondisikan lingkungan tumbuh yang sesuai sangat penting karena merupakan tindakan pencegahan/preventif terjadinya serangan OPT melalui teknik budidaya.

Tindakan preventif agar tanaman sehat lebih bijaksana dibandingkan dengan tindakan kuratif atau mengobatinya.

Bagaimana mewujudkan tanaman sehat ditinjau dari teknologi budidaya tanaman buah.

Syarat terpenting agar penerapan perlakuan pemacuan pembuahan di luar musim berhasil adalah kondisi tanaman harus sehat dan vigor tegar sehingga secara metabolis dan fisiologis mendukung terjadinya perubahan atau transisi dari pertumbuhan pucuk vegetatif ke pucuk reproduktif.

Semua perlakuan yang bertujuan untuk memproduksi buah di luar musim bersifat menginduksi terjadinya stres atau penghambatan pertumbuhan vegetatif.

Namun perlu diketahui bahwa stres yang berlebihan mengakibatkan kondisi pohon setelah diperlakukan akan memburuk (sumber FP. Unila 2020).

Maju Cemerlang Faperta Kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesian