Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman (Teknologi Pengusir Hama Tikus di Lahan Pertanian)

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) jurusan Teknik Pertanian melalui Dr. Sandi Asmara, Ir. Solikhin, M.P., dan Dr. Mareli, melaksanakan program siaran Faperta Berkarya dengan topik Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman (Teknologi Pengusir Hama Tikus di Lahan Pertanian), bertempat Radar Lampung Televisi, Kamis, (18/12/2020).

Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia sebanding dengan peningkatan kebutuhan pokok masyarakat. Kebutuhan pokok masyarakat Indonesia adalah beras yang berasal dari tanaman padi.

Gangguan terhadap pertumbuhan tanaman padi, dapat menyebabkan turunnya produksi tanaman padi, sehingga mampu berdampak pada kelangkaan beras di Indonesia.

Salah satu gangguan dalam produksi tanaman padi adalah serangan hama tikus. Pengendalian hama tikus merupakan tantangan terbesar bagi petani yang ada di provinsi Lampung

Pada penelitian di Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung, hama tikus merupakan salah satu hama yang (sangat) merugikan petani. Hama Tikus cenderungn menyerang tanaman pada malam hari. Sifat tikus yang cerdik menyebabkan berbagai jenis perangkap tidak dapat optimal untuk mengendalikan tikus.

Hal terkait dengan volume otak yang dimiliki oleh tikus. Hama tikus, mampu belajar dari pengalaman yang dilalui oleh tikus lain baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Dari pengamatan yang dilakukan, hama tikus dapat merusak hingga 80 % tanaman padi pada satu petak dalam satu malam (1 hari). Hama tikus menyerang mulai akar, batang, daun, hingga bulir tanaman padi, sehingga tanaman padi tidak dapat berkembang.

Hal ini tentu menyebabkan kerugian yang tinggi bagi petani. Komunikasi antar kelompok tikus dan kemampuan belajar yang unik menyebabkan hama tikus cenderung sulit untuk diberantas dengan teknik biasa dan monoton.

Untuk itu dibutuhkan kombinasi perlakuan baik dari segi teknis yang meliputi penggunaan alat-alat mekanis dan non teknis yang meliputi kebersihan agar dapat mengendalikan hama tikus yang ada dipersawahan atau lahan pertanian.

Pengendalian hama tikus dilakukan secara berkelanjutan, karena keberadaan hama tikus terkait dengan tempat tinggal (tempat berkembang biak) dan sumber makanan. Dari sudut pandang ilmu engineering (keteknikan) terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk pengendalian hama tikus yaitu manual, mekanis, dan elektrik.

a. Manual.
Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan membersihkan saluran-saluran air, menghilangkan penumpukan jerami di lahan sawah, penggunaaan musuh alami seperti burung hantu, menggunakan orang-orangan, dan lain sebagainya. Selain untuk mengusir tikus, orang-orangan sawah memiliki fungsi untuk mengusir berbagai hama burung yang memakan tanaman padi saat fase pematangan bulir.

b. Mekanis
Pengendalian secara mekanis yaitu dengan menggunakan alat semprot api, dengan menyasar lubang-lubang tikus. Kegiatan ini tentu membutuhkan kerjasama antar pemilik lahan (kelompok tani). Disamping itu, menggunakan perangkap dan racun tikus pada sudut-sudut yang dianggap potensial yaitu sarang, tempat sering dilewati, dan tempat berkumpulnya hama tikus.

c. Elektrik
Pengendalian secara elektrik yaitu dapat dilakukan dengan sengatan listrik, pengusir tikus menggunakan suara ultrasonic, dan cahaya yang dapat digunakan untuk menyinari lahan secara periodik. Salah satu pengusir tikus yang telah dirancang oleh Fakultas Pertanian Universitas Lampung adalah pengusir tikus berbasis Ultrasonik.

Pengusir tikus ini dapat bekerja 24 jam karena menghasilkan energi listrik secara mandiri. Panel surya telah terpasang di atas alat sehingga dapat mendukung prinsip precission farming (pertanian presisi).

Prinsip kerja sistem kendali ini adalah mengganggu sistem pendengaran tikus yang berada di areal jangkauan alat, sehingga tikus tidak nyaman untuk berada di sekitar lahan.

Sistem ini menggunakan mikrokontroler atmega 328 dengan board arduino uno. Aktuator yang digunakan adalah tweeter ultrasonic sebanyak 4 unit. Sensor yang digunakan adalah passive infrared resistor (PIR) sebanyak 4 sensor.

Alat pengusir hama tikus rancangan mampu menghasilkan gelombang suara dari 20 Khz hingga 50 Khz. Pendengaran tikus berada pada rentang frekunsi antara 5 Khz- 90 Khz. Akan tetapi, tikus terganggu saat mendengar suara pada kisaran frekuensi ultrasonic >20 Khz hingga 60 Khz. Aktuator dan sensor dipasang mengelilingi kerangka sistem kendali. Panel surya 50 Watt peak dipasang pada sistem kendali untuk membantu sistem kendali mendapatkan energi listrik mandiri.

Pengusir tikus rancangan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mampu menjangkau 1200 m2 , sedangkan sensor mampu mendeteksi keberadaan gangguan pada kisaran 78,53 m2 . Jarak maksimal sensor dengan sumber gangguan adalah 5 meter. Saat ada gerakan, maka speaker ultrasonic akan menyala.

Sistem kendali dapat mengenali gangguan dan menyalakan aktuator sebesar 100 %. Respon sistem kendali untuk mengaktifkan aktuator saat tikus berada pada area sensor PIR adalah 0,12 detik. Rerata waktu tikus menghindar dan menjauhi umpan karena pengaruh gelombang suara ultrasonik adalah 4 detik.

Hasil ini menunjukkan bahwa sistem kendali telah mampu mendeteksi dan mengganggu hama tikus saat berada pada jangkauan sistem kendali.

Sumber : Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 2020.

Maju Cemerlang Faperta Kita.

EnglishIndonesian