“Faperta Berkarya” Strategi Mengolah Cita Rasa dan Meningkatkan Mutu Kualitas Kopi Robusta Lampung

Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) melalui Dr. Erdi Suroso, STP., MTA., Dr. Ir. Tanto Pratondo Utomo, M.Si., dan Dr. Ir. Subeki, M.Si., M.Sc., melaksanakan siaran Faperta Berkarya dengan tema Strategi Mengolah Cita Rasa dan Meningkatkan Mutu Kualitas Kopi Robusta Lampung, bertempat Radar Lampung Televisi, Kamis, (07/01/2021).

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) merupakan salah satu jurusan dari 10 jurusan yang ada di Fakultas Pertanian Universitas Lampung, berdiri pada tahun 1995 yang pada saat ini memiliki 3 (tiga) program studi (PS) yaitu PS S1 Teknologi Hasil Pertanian (berdiri tahun 1990; terakreditasi A periode 2014-2019 dan periode 2019-2024 ), PS S1 Teknologi Industri Pertanian (berdiri tahun 2017; terakreditasi B periode 2019-2024), dan PS S2 Teknologi Industri Pertanian (berdiri tahun 2000; terakreditasi A sejak tahun 2017).

Kiprah yang telah dilakukan oleh Jurusan THP FP dan PS yang ada terakreditasi A dan B

  • Menghasilkan lulusan dari ketiga PS (THP, TIP, dan MTIP) yang bermutu dan berdaya saing tinggi yang telah mengabdikan dirinya di berbagai bidang baik di pemerintahan maupun swasta (bisa dikaitkan dengan kuliah umum yang diberikan oleh para alumni di bulan Oktober 2020).

    Para alumni dibekali kemampuan yang memadai di bidang kimia-biokimia, mikrobiologi, pengawasan mutu, manajemen, dan pengelolaan lingkungan, khususnya di bidang agroindustri.
  • Para dosen melalui hasil penelitian dan kepakarannya telah banyak terlibat dalam berbagai pengembangan di bidang agroindustri, dimana Provinsi Lampung merupakan salah satu pusat agroindustri Indonesia: berbasis ubi kayu, kelapa sawit, karet, tebu, nenas, kopi, pisang, dan komoditas lain antara lain komoditas penghasil minyak atsiri).

Komoditas unggulan dan ikonik Provinsi Lampung: KOPI.
Kopi merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan Provinsi Lampung yang ditunjukkan bahwa Provinsi Lampung merupakan provinsi kedua terbesar penghasil kopi robusta di Indonesia.

Hal ini juga ditunjukkan dengan maraknya muncul kopi-kopi kekinian terutama terlihat di Bandar Lampung.  Selain itu, kopi-kopi yang tradisional yang telah ada tetap eksis.

Kopi merupakan salah satu minuman yang banyak dikonsumsi oleh penduduk di dunia. Penikmat kopi cenderung memilih kopi dengan mempertimbangkan cita rasa, warna, dan rasa dalam seduhan kopi yang berkualitas.

Di lapangan, banyak petani yang melakukan petik asalan hingga membuat mutu dan citarasa kopi yang dihasilkan menurun. Salah satu upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan citarasa kopi yaitu dengan proses fermentasi. 

Fermentasi dilakukan dengan cara buah kopi robusta dijemur hingga kering lalu dipulpig untuk menghilangkan kulit buahnya. Selanjutnya biji kopi difermentasi dalam wadah dengan penambahan starter Bakteri Asam Laktat (BAL) selama 2 hari.

Selanjutnya biji kopi dicuci dan dikeringkan hingga kering Selanjutnya biji kopi dihuling untuk menghilangkan kulit arinya hingga diperoleh green bean. Lebih lanjut green bean dapat diolah menjadi kopi bubuk atau dijual sebagai komoditi ekspor.

BAL diperoleh dari mikroflora feses luwak yang terdiri dari spesies Lactobacillus plantarum, Lactobacillus brevis,  Leuconostoc paramesenteroides, Leuconostoc mesenteroides, Leuconostoc dextranicum dan Streptococcus faecium. Selama fermentasi, BAL akan memecah senyawa kompleks menjadi senyawa lebih sederhana dan produk metabolit asam organik hingga menghasilkan kopi rendah kafein dan citarasa yang tinggi.

Maju Cemerlang Faperta Kita.

EnglishIndonesian