“Faperta Berkarya” Pemanfaatan Lahan Eks-galian Pasir Untuk Perikanan

Fakultas Pertanian Universitas lampung (FP Unila) jurusan Perikanan dan Kelautan, melalui Dr. Indra Gumay Yudha, S.Pi., M.Si., Rara Diantari, S.Pi., M.Sc., dan Qodar Hasani, S.Pi., M.Si., melaksanan program Faperta Berkarya dengan tema “Lahan Eks-Galian Pasir Kabupaten Lampung Timur, Permasalahn dan Tantangan Pemanfaatannya untuk Budidaya Perikanan”, bertempat Radar Lampung Televisi, Kamis, (04/02.2021).

Indonesia memegang peranan yang sangat penting dalam industri batubara dan mineral dunia. Tahun 2005 Indonesia menduduki peringkat ke-2 sebagai negara pengekspor batubara. Sedangkan untuk pertambangan mineral, Indonesia merupakan negara penghasil timah peringkat ke-2, tembaga peringkat ke-3, nikel peringkat ke-4 dan emas peringkat ke-8 dunia (Gautama, 2007).

Sementara itu, tentang produksi pertambangan mineral yang termasuk golongan galian C seperti pasir belum banyak dipublikasikan, tetapi mengingat kebutuhannya yang penting sebagai bahan bangunan, diperkirakan secara total jumlahnya dapat lebih besar dari berbagai jenis tambang lainnya.

Salah satu wilayah yang memiliki potensi tambang pasir yang luar biasa besar adalah Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur.

Potensi pasir di Kabupaten Lampung Timur dapat dijumpai di Desa Purwerejo, Kec. Pasir Sakti; Desa Labuhan Ratu, Kec. Pasir Sakti; Desa Sumur Kucing, Kec. Pasir Sakti; Desa Sukorahayu, Kec. Labuhan Maringgai dan Desa Margasari, Kec. Labuhan Maringgai. Endapan pasir kuarsa  ini telah telah diusahakan, terutama di wilayah Kecamatan Pasir Sakti, yang ditambang dengan mesin sedot dan dikirim ke Jakarta, dan daerah-daerah sekitarnya.

Kegiatan pertambangan galian C (pasir dan pasir kuarsa) di Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur, yang berlangsung sejak tahun 2004 hingga tahun 2017 telah merubah bentuk bentang alam dan peruntukan lahan di sekitarnya.

Menurut ekpose Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur, luas lahan eks galian pasir di Kecamatan Pasir Sakti mancapai 20.000 ha.

Menurut Malik (2017) potensinya mencapai 1.000.000.000 m3. Sedangkan berdasarkan dokumen PT. Jaya Pacific Propertindo, perusahaan  yang memiliki izin mengoperasikan Terminal Khusus Pertambangan Pasir di Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur, (berdasarkan Kepmen. Perhubungan Nomor KP 691 Tahun 2011), potensinya mencapai ± 30.000 Ha dan memiliki deposit pasir sebanyak 1.200.000.000 m3.

Sasaran pemasaran pasir ini adalah untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Banten, Kawasan Industri Jababeka di Bojonegara, pembangunan Pabrik Besi Krakatau Posco, pembangunan pusat-pusat pemerintahan Provinsi Banten, pembangunan jalan tol Tanjung Priok, infrastruktur Jabodetabek, banjir kanal Jakarta dan kebutuhan lokal di Provinsi Lampung.

Kondisi perairan di lahan eks tambang pasir di Kecamatan Pasir Sakti, saat ini menjadi genangan-genangan tidak termanfaatkan, baik untuk kepentingan pertanian maupun untuk kepentingan budidaya perikanan.

Padahal sejatinya Kecamatan Pasir Sakti sangat potensial sebagai daerah produsen utama komoditas perikanan bagi Kabupaten Lampung Timur dan Provinsi Lampung, karena sepanjang Pantai Timur Lampung, yang meliputi Kecamatan Bakauheni, Kecamatan Pasir Sakti, Kecamatan Labuhan Maringgai, hingga batas taman Nasional Way Kambas di Kuala Penet, merupakan daerah pertambakan udang tradisional yang cukup produktif di Provinsi Lampung.

Bahkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kalautan dan Perikanan Republik Indonesia, Nomor 35/KEPMEN-KP/2013, tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, Kecamatan Pasir Sakti Merupakan salah salah satu kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan minapolitan dengan basis perikanan budidaya di Provinsi Lampung.

Hal ini selanjutnya ditindaklanjuti dengan Keputusan Bupati Lampung Timur Nomor B.541/04/SK/2014 tentang Penetapan Kecamatan Maringgai dan Kecamatan Pasir Sakti sebagai Kawasan Minapolitan Kabupaten Lampung Timur.


Permasalahan Unsur Logam dan Asam di Lahan eks Tambang Pasir
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa, kandungan logam seperti Fe, Mn, dan Si merupakan kondisi yang umum ditemui pada lokasi eks galian tambang dan tambang pasir. Menurut Schumann et al. (2015) beberapa mineral sulfida umumnya berinteraksi secara signifikan terhadap pirit (FeS2).

Sedangkan menurut Commonwealt of Australia, 2016), Fe dan S merupakan asam dan logam yang merupakan indikator pada daerah pertambangan dengan menghasilkan asam besi berbasis Fe termasuk pirit dan markasit (FeS2), pirhotit (FeS), kalkopirit (CuFeS) dan arsenopirit (FeAsS).

Menurut Darmayanti et al. (2000) yang meneliti fasa mineral pasir di Aceh dan Cilacap, terdapat 7 jenis fasa mineral pada Pasir Aceh dan 6 jenis fasa untuk Pasir di Cilacap.

Fasa mineral itu terdiri dari fasa magnetite, Fe3O4; hematite dan maghemite, Fe2O3; ilmenite, FeTiO3; kuarsa SiO2 dan beberapa rasa minor lainnya. Berdasaran analisis fluoresensi sinar-x (XRF) dideteksi terdapat 14 unsur kimia makro pada mineral pasir dengan distribusi unsur Fe yang lebih dominan. Fraksi berat unsur dominan Fe pada pasir dapat mencapai sekitar 30 %.

Menurut Commonwealt of Australia, 2016), Fe dan S merupakan asam dan logam yang merupakan indikator pada daerah pertambangan dalam bentuk mineral sulfida yang akan terpapar udara dan air. Mineral sulfida yang paling umum yang menghasilkan asam besi berbasis-(Fe) termasuk pirit dan markasit (FeS2), pirhotit (FeS), kalkopirit (CuFeS) serta arsenopirit (FeAsS).

Walaupun tidak semua mineral sulfide (misalnya, galena (PbS) dan sfalerit (ZnS)) merupakan pembentuk-asam selama oksidasi, namun sebagian besar memiliki kapasitas untuk melepaskan logam pada oksidasi dan/atau paparan air yang bersifat asam.

Berdasarkan uraian kondisi lahan perairan eks galian pasir di Kecamatan Pasir Sakti, beberapa permasalahan yang dihadapi dalam rangka pemanfaatan danau-danau eks galian pasir di Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur antara lain sebagai berikut:

  • Kondisi perairan di lahan eks tambang pasir di Kecamatan Pasir Sakti, saat ini menjadi genangan-genangan tidak termanfaatkan, baik untuk kepentingan pertanian maupun untuk kepentingan budidaya perikanan.

    Genangan ini membentuk danau-danau yang sangat luas (Firdaus, 2012; Malik 2017) dan terisi air secara permanen sepajang tahun.

    Berdasarkan pengukuran menggunakan fasilitas google earth, luas keseluruhan danau-danau eks galian pasir ini diperkirakan mencapai 6.000 ha.

    Hingga saat ini belum terdapat informasi dari hasil penelitian yang konfrehensif dan memadai tentang kondisi kualitas air (fisika, kimia dan biologis) perairan lahan eks galian pasir di Kecamatan pasir Sakti.
  • Keterbatasan informasi dan data tentang kualitas air eks galian pasir di Kecamatan Pasir Sakti, memberikan keterbatasan informasi kaitannya dengan upaya pengelolaan danau-danau eks galian pasir tersebut untuk kegiatan budidaya perikanan, oleh karena itu perlu adanya kajian yang menyeluruh tentang kondisi perairan eks galian pasir dalam rangka telaah kelayakannya/kesesuaiannya untuk kegiatan budidaya perikanan.
  • Berdasarkan hasil pengukuran logam yang dilakukan oleh Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Lampung pada tahun 2017 pada galian pasir tersebut, diperoleh hasil logam besi (Fe) de-ngan konsentrasi berkisar antara 0,22-1,54 mg/l di air dan 1,75-36,46 mg/100 gr pada daging ikan yang hidup pada lahan bekas galian pasir tersebut.

    Berdasarkan hasil penelitian Tim Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Unila, kandungan Fe pada air di lahan eks galian pasir Kec. Pasir Sakti Lampung Timur, berikisar 0,159 – 5,898 mg/L. Nilai ini sangat jauh diatas standar WHO yaitu 0,3 mg/L. Dengan kandungan SO4 berkisar antara 12,933 mg/L sd. 90,428 mg/L.
  • Sebagai informasi dasar, menurut Firdaus (2012), kondisi perairan eks galian pasir di kecamatan Pasir Sakti memiliki pH yang rendah/bersifat asam dengan nilai pH 4,5-6, dengan kandungan Fe dan Si yang tinggi.

    Kondisi kandungan Fe, Si dan logam berat lainnya umum ditemukan pada lahan-lahan perairan galian pasir (Darmayanti et al. 2000).

    Kondisi lahan eks pertambangan dengan kandungan logam dan asam ini dikenal sebagai fenomena acid mine drainage (AMD) (Untung, 1993; Drjen Minerba, 2009; Commonwealth of Australia, 2016; Ambiado et al. 2017; Runtti et al. 2018).
  • Lahan eks tambang pasir dengan karakteristik yang spesifik dan tidak optimal pada dasarnya merupakan potensi lahan budidaya perikanan yang belum ideal (Octorina et al. 2012; Octorina et al. 2013).

    Kualitas air yang tidak optimum (Hariratri, 2001), bersifat asam (Firdaus, 2012), serta adanya kandungan logam berat (Darmayanti et al. 2000; Kurniawan, 2018) menjadikan pemanfaatannya untuk pemeliharaan ikan membutuhkan perlakuan khusus.

    Salah satu metode yang dapat digunakan adalah perlakuan fitoremediasi untuk memperbaiki kualitas air (Priyadie, 2012; Purnomo, 2015) agar sesuai dan optimal sebagai media hidup ikan.

Solusi dan peluang pemanfaatan meliputi ; Tantangan Pemanfaatan Lahan eks Galian Pasir, Teknologi Remediasi Besi dan Asam di Perairan sebagai sebuah Solusi, dan Alternatif pemanfaatan untuk Budidaya Perikanan).

Tantangan Pemanfaatan Lahan eks Galian Pasir
Pemanfaatan lahan perairan eks galian pasir atau bekas tambang lainnya membutuhkan tantangan tersendiri, karena umumnya lahan seperti ini memiliki kualitas perairan dan tanah yang spesfik dan tidak optimum.

Perairan di lahan eks tambang pasir umumnya yang miskin unsur hara dan memiliki kualitas air yang tidak optimal. Lahan eks tambang pasir dengan karakteristik demikian, pada dasarnya adalah sebuah lahan budidaya perikanan yang belum ideal.

Kualitas air yang tidak optimum serta adanya kandungan logam berat menjadikan pemanfaatan lahan eks galian pasir sebagai lahan budidaya ikan membutuhkan tantangan terutama terhadap perlakuan remediasi/rekayasa kualitas air agar sesuai dan optimal untuk kegiatan perikanan budidaya.

Pemanfaatan lubang eks tambang pada dasarnya telah dilakukan pada beberapa bekas lokasi pertambangan. Reklamasi lahan bekas galian pasir dan batu telah dilakukan di Desa Pagelaran, Kecamatan Ciomas dengan melakukan budidaya ikan air tawar (Haryono dan Tjakrawidjaja, 1994).

Penambangan Timah di Pulau Bangka juga merupakan contoh kegiatan penambangan mineral yang meninggalkan lubang bekas tambang.

Menurut Hariratri (2001), secara keseluruhan kualitas air kolong umur sedang (5-20 tahun) lebih sesuai untuk budidaya ikan karamba jaring apung dibandingkan kualitas kolong umur muda (0-5 tahun) terutama untuk budidaya ikan nila (Oreichromis niloticus).

Beberapa penelitian tentang potensi lahan eks galian pasir untuk pemanfaatan bagai budidaya perikanan telah dilakukan antara laian oleh Octorina et al. (2011), Octorina et al. 2012, dan Octorina et al. 2013) yang menyatakan bahwa perairan situ bekas galian pasir di Sukabumi dan Cianjur telah berstatus eutrofik sehingga berpotensi untuk pengembangan budidaya perikanan.

Selain itu hasil penelitian Suciono et.al. (2016) menemukan bahwa hasil analisis kualitas perairan ex galian C di Desa Bedewang Songgon Kabupaten Banyuwangi menunjukan masih dalam kategori layak, hal ini ditinjau dari paremeter fisika kimia, biologi berdasarkan standar mutu kualitas air untuk budidaya.

Teknologi Remediasi Besi dan Asam di Perairan sebagai sebuah Solusi
Berbagai penelitian untuk mereduksi Reduksi Fe dan air asam dengan kandungan SO4 tinggi telah dilakukan. Menurut Runtti et al. (2018) terdapat 5 jenis perlakuan yang dapat digunakan yaitu:

1). Presipitasi misalnya dengan menggunakan kapur atau batu kapur (Maree et al. 2004a) atau dengan menggunakan produk samping industri sebagai sumber kalsium alternatif juga telah diteliti (Alakangas et. al. 2013; Mackie et al. 2010a; Mackie et al. 2010b; Mackie dan Walsh 2012; Tolonen et al. 2014).

2). Adsorpsi, misalnya dengan menggunakan karbon aktif karbon aktif (Hong et al. 2014; Hong et al. 2017; Hou et al. 2014; Salman 2009), fly ash (Koshy and Singh 2016), geopolimer yang dimodifikasi (Runtti et al. 2016a), zeolit ​​yang dimodifikasi (Oliveira dan Rubio 2007a; Runtti et al. 2017; Vujaković et al. 2000), dan batu kapur (Iakovleva et al. 2015; Silva et al. 2012), sabut kering yang dimodifikasi (Namasivayam dan Sureshkumar 2007), jerami padi modifikasi (Cao et al. 2011), nano-alumina (Katal et al. 2012), tanah (Bazer-Bachi et al. 2007; Delfosse et al., 2006; Gustafsson et al. 2015), pasir besi, dan limbah pulp dan kertas (Iakovleva et al. 2015).

Modifikasi kimia telah dilakukan, misalnya, dengan polipirol (Hong et al, 2014; Hong et al. 2017; Hou et al. 2014), BaCl2 (Runtti et al. 2016a; Runtti et al. 2017), ZnCl2 (Namasivayam dan Sangeetha 2008), NaOH (Moret dan Rubio 2003), (NH4) 2S2O8, (Sang et al. 2013) dan ZrOCl2·8H2O (Mulinari dan da Silva 2008), dan surfaktan kationik (Rui et al. 2011).

Adsorpsi, secara umum, memiliki potensi untuk menjadi metode yang efektif dan ekonomis (Fu dan Wang 2011; Gupta et al. 2013; Yavuz et al. 2003).

3). Pertukaran ion, misalnya dengan menggunakan resin anion basa lemah (Guimarães dan Leão 2014; Sincero dan Sincero 2003), Resin polimer (seperti poli (stirena-divinilbenzena)) (Sincero dan Sincero 2003). NaOH (cocok untuk basa kuat dan resin anion basa lemah) (Valverde et al. 2006).

4). Teknologi membran,yang diklasifikasikan sebagai mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, nanofiltrasi (NF), dan reverse osmosis (RO), tergantung pada kapasitas pemisahannya.

Pemulihan air menggunakan NF atau RO bervariasi dalam 50-90% (Flynn 2009; Giwa et al. 2017).

Bahkan menurut Ambiado et al. 2017; Aubel et al. 2017; Bodalo et al. 2004; Visser et al. 2011) efektivitas NF dan RO telah menunjukkan efisiensi tinggi untuk menghilangkan sulfat, mencapai lebih dari 99% dalam kondisi ideal.

5). Treatmen biologis (Fitoremediasi). Penelitian tentang teknologi fitoremediasi logam dan logam berat dengan menggunakan tanaman air telah banyak dilakukan.

Salah satu tumbuhan akuatik yang memiliki kemampuan hiperkumulator terhadap logam berat adalah adalah Salvinia molesta (Ranjitha et al. 2016); (George & Gabriel 2017).

S. molesta mampu menurunkan konsentrasi logam Cu hingga 96% (Baroroh et al. 2018), memiliki removal efficiency terhadap  Cr, Cu, Fe, Ni and Pb berturut-turut sebesar 81.66%, 69.81%, 65.2%, 66.39% and 74.85% (Mustafa & Hayder 2020), serta mampu menyerap logam Cr (IV) hingga 75.71 – 90 %  (Pati & Satapathy 2016). S. molesta juga efisien mereduksi hingga 89.3% of TSS dan 88.6% fosfat (Nizam et al. 2020).

Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) juga mempunyai daya serap yang tinggi terhadap besi (Fe) di perairan (Rezania et al. 2016); (Putra & Hastika 2018).  E. crassipes juga mampu mereduksi logam berat Fe, Ca, Mg, Cl serta SO4 dan PO4 (Elumalai et al. 2011). E. crassipes mereduksi merkuri (Hg) hingga 81,19% (Rondonuwu 2014).

Berbagai persentase penurunan konsentrasi Fe oleh E. crassipes antara lain sebesar 71,2% (Ajibade et al. 2013);  sebesar 98% (Rezania et al. 2016); sebesar 90,5% (Sidek et al. 2018); serta sebesar  95,28% (Yunus & Prihatini 2018).

E. crassipes juga mampu mengurangi konsentrasi besi (Fe) dan Mangan (Mn) sebesar 88,98 % (Elisa et al. 2016). Oleh karena itu E. crassipes adalah kandidat yang menjanjikan untuk meremediasi konsentrasi Fe pada air di lahan eks galian pasir.

Tanaman air lain yang memiliki potensi rebagai bioakumulator logam di perairan adalah Azolla sp. (Sood et al. 2012) yang menyatakan bahwa Azolla pinnata dapat menurunkan konsentrasi 70-94% logam berat (Hg dan Cd). (Thayaparan et al. 2013) menyatakan bahwa efisiensi pemindahan timbal (Pb) oleh A. pinnata maksimum adalah 1383 mg/kg berat kering A. pinnata dan mampu menurunkan konsentrasi Pb di air sebesar 83% setelah empat hari perlakuan.

Kemampuan Azolladalam mereduksi berbagai jenis logam juga telah disampaikan oleh (Shafi et al. 2015); (Noorjahan & Jamuna 2015); dan (Vigiyanti et al. 2017). Oleh karena itu A. pinnata adalah kandidat potensial untuk mereduksi logam pada air yang tercemar. 

Beberapa bakteri juga mampu menggunakan energi dari proses oksidasi/reduksi logam maupun senyawa-senyawa lainnya untuk pertumbuhannya.

Bakteri pengoksidasi besi dan sulfur melakukan oksidasi mineral yang akan menghasilkan ferro sulfat dan “oksidan”. Bakteri yang mampu mengoksidasi besi dan sulfur antara lain Leptospirillum ferrooxidans, Sulfolobus acidocalderius danumumnya dari genus Thiobacillus (Puspitasari, et al. 2014).

Alternatif pemanfaatan untuk Budidaya Perikanan
Sebagai upaya pemanfatan lahan/danau-danau eks galian pasir di Kecamatan Pasir Sakti kabupaten Lampung Timur, untuk kegiatan budidaya perikanan, setidaknya terdapat tiga pilihan metode budidaya dengan memanfaatkan teknologi fitoremediasi.

Berikut adalah pilihan metode budidaya yang dapat diterapkan dengan beberapa kelabihan dan kekurangannya yaitu.

1). Budiadaya ikan dengan metode Karamba Jaring Apung (KJA).
Kelebihan sistem budidaya dengan KJA. Budidaya ikan dengan KJA ideal ditempatkan dibadan air dalam, seperti waduk, danau atau laut.

Keramba jaring apung merupakan salah satu wadah untuk penerapan budidaya perairan sistem intensif. Prinsipnya semua jenis ikan laut dan ikan air tawar dapat dipelihara pada keramba jaring apung. Metode KJA juga sudah sangat popular diterapkan di kalangan petani ikan.

Kekurangan budidaya dengan KJA.

  • Membutuhkan biaya yang besar untuk kontruksi KJA, dan pembelian perahu.
  • Membutuhkan tambahan biaya pakan, mengingaat saat aplikasi pakan, akan banyak pakan yang tidak terbuang akan mengendap di dasar perairan.
  • Dalam konteks penerapan fitoremediasi di lahan eks galian pasir sulit diterapkan, karena merupakan perairan terbuka, dangkal menyebabkan fitoremediasi dapat berjalan kurang efektif, akibat masih adanya pertukaran air di dalam dan di luar karamba.
  • Dalam jangka panjang, penerapan pada lahan eks galian pasir yang relatif sempit, akan berbahaya bagi lingkungan perairana akibat adana penumpukan limbah pakan dan kotoran ikan di dasar perairan

2). Budidaya ikan dengan metode Kolam Apung/ kolam gantung.

Kelebihan:

  • Dalam konteks penerapan teknologi fitoremediasi di lahan perairan eks galian pasir, lebih memungkinkan diterapkan, karena tidak ada percampuran air dari dan keluar kolam.
  • Pengelolaan dan pengaturan pakan ikan lebih mudah dan terkontrol daripada sistem KJA.
  • Tidak banyak kotoran dan sisa pakan yang akan terbuang dan mengendap di dasar perairan.
  • Secara ekologis lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan KJA.

Kekurangan:

  • Membutuhkan biaya yang besar untuk kontruksi kolam terapung dan perahu.
  • Metode ini belum banyak dikenal oleh masyarakat.
  • Luasan kolam yang data dibangun dalam satu lahan eks galian pasir, menjadi lebih terbatas.
  • Membutuhkan peratan tambahan berupa pompa air untuk menaikkan air dari perairan ke dalam kolam terapung.

3) Budidaya ikan dengan metode kolam terpal.

Kelebihan:

  • Metode kolam terpal penerapannya sangat sederhana, dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat pembudidaya ikan.
  • Biaya yang dibutuhkan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan metode karamba jaring apung klam terpal terapung. Metode ini juga tidak membutuhkan biaya tambahan untuk membeli perahu.
  • Dapat diterapkan oleh hampir semua masyarakat yang tinggal disekitar lingkungan danau-danau eks galian pasir.
  • Metode kolam terpal dapat diterapkan di sekeliling danau-danau eks galian pasir, sehingga hampir semua masyarakat di sekeliling lahan kes galian pasir dapat menerapkannya. Luasan kolam yang dapat dibangun juga akan jauh lebih besar jika dibandingkan penerapak KJA dan Kolam apung. Potensi produksi secara kolektif juga mungkin jauh lebih besar.
  • Pengelolaan dan pengaturan pakan ikan lebih mudah dan terkontrol daripada sistem KJA dan Kolam apung.
  • Tidak ada kotoran dan sisa pakan yang akan terbuang dan mengendap di dasar perairan, sehingga relatif aman bagi lingkungan perairan.

Kekurangan:

  • Metode ini sangat sederhana, sehingga mungkin justru tidak menarik bagi sebagian kalangan.
  • Membutuhkan lahan daratan untuk kontruksi kolam.
  • Membutuhkan peralatan  tambahan berupa pompa untuk menaikna air dari danau ke kolam-kolam terpal, namun biaya ini masih lebih murah dibandingkan biaya kontruksi KJA dan pengadaan perahu.

Penutup
Ujicoba fitoremediasi besi (Fe) di air dari danau-danau eks galian pasir di Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur oleh Tim Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Unila, dengan memanfaatkan tanaman air E. crassipes, A. pinnata dan S. molesta terbukti efektif menurunkan konsentrasi Logam Fe hingga konsentrasi 0.02 (di bawah nilai batas yang disarankan WHO). Konsentrasi ini tercapai selama 21 hari perlakuan.

Penerapan fitoremdiasi dangan tanaman air dan penambahan Biochar dan jerami padi, juga berhasil meningkatkan kecepatan reduksi Fe di perairan, dari 21 hari manjadi 6 dan 9 hari saja. Dengan demikian metode fitoremediasi ini dapat diandalkan untuk mereduksi kandungan Fe pada air di lahan eks galian pasir.

Hasil ini memberikan harapan bagi upaya pemanfaatan lahan-lahan eks galian pasir di Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur untuk dapat dimanfaatkan bagi kegiatan budidaya perikanan. Pemanfaatan lahan eks galian pasir untuk budidaya perikanan memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat sekitarnya.

Oleh karena itu diharapkan lahan-lahan eks galian pasir yang sebelumnya terbengkalai dan menjadi masalah, selanjutnya dapat bermanfaat bagi peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Penelitian tentang Bioremediasi Fe pada air eks galian pasir di Kab Lampung Timur, telah dipublikasikan pada dua Jurnal Internasional:

  1. Azolla Pinnata as Phytoremediation Agent of Iron (Fe) in Ex Sand Mining Waters, Dipublikasikan pada Chiang Mai University Journal of Natural Sciences. Vol 20. Nomor 1. Januari 2021.
  2. Phytoremediation of iron in ex-sand mining waters by water hyacinth (Eichhornia crassipes), Dipublikasikan pada Jurnal Biodiversitas, Volume 22, Number 2, February 2021.

Kandungan Besi yang diperkenanan pada air. 0,3 (Pergub Sumsel, 2005) 0,3 (WHO, 2003) 0,5 (USEPA, 1986) 0,45 (WPCL, 2004). Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air telah ditetapkan standar maksimal konsentrasi logam berat dalam air yaitu besi (Fe) 0,3 mg/L.

Standar baku mutu batas maksimum nilai logam berat yang diperbolehkan pada ikan atau makanan yang diizinkan berdasarkan keputusan Badan POM Depkes RI tahun 1989 yaitu sebesar 0,50 mg/kg (Pratiwi, Rostika dan Dhahiyat, 2011), sedangkan menurut Badan Standarisasi Nasional (2009) batas maksimum cemaran logam Fe pada pangan adalah sebesar 1 mg/kg. Hasil analisis tersebut juga dibandingkan dengan : WHO (2003); USEPA (1986); dan WPCL (2004).

USEPA (1986), Quality Criteria for Water. EPA-440/586-001, Office of Water Regulations Standards,Washington DC, USA.

 WPCL, 2004, Land Based Water Quality Classification. Official Journal, 25687, Water Pollution Control Legislation, Turkey.

Toksisitas Fe pada Ikan Air Tawar:

  • Pada pH rendah unsur-unsur seperti Al, Mn, dan Fe akan bersifat racun (Tim IPB. 1976).
  • Kadar besi > 1 mg/1 dianggap membahayakan kehidupan organisme akuatik (Moore, 1991),
  • nilai LC50 besi terhadap ikan berkisar antara 0,30-10 mg/1 (Biesinger and Christensen, 1972)
  • Air hujan mengandung logam besi (Fe) sekitar 0,05 mg/liter (McNeely et al., 1979)
  • Pada ikan ada dua lokasi potensial untuk penyerapan logam, seluruh usus yang bersumber dari makanan atau pada jaringan epitel insang (branchial epithelium) yang bersumber dari air (Bury, et al., 2001).

    Insang berperan pada proses respirasi, keseimbangan asam-basa, regulasi ionik dan osmotik karena adanya jaringan epitel insang (branchial epithelium) yang menjadi tempat berlangsungnya transport aktif antara organisme dan lingkungan.

    Insang merupakan organ pertama tempat penyaringan air yang masuk ke dalam tubuh ikan, oleh karenanya jika air tersebut mengandung toksikan seperti logam Fe akan memberikan dampak pada jaringan insang tersebut (Withers, 1992).

Gangguan Fe Pada manusia Pada Manuasia:
Buangan industri yang mengandung persenyawaan logam berat seperti logam besi (Fe)  bukan hanya bersifat toksik terhadap tumbuhan, tetapi juga terhadap hewan dan manusia.

Tingginya kandungan logam besi (Fe) akan berdampak terhadap kesehatan manusia diantaranya;
Bisa menyebabkan keracunan (muntah), kerusakan usus, penuaan dini hingga kematian mendadak, radang sendi, cacat lahir.

Gusi berdarah, kanker, cardiomyopathies, sirosis ginjal, sembelit, diabetes, diare, pusing, mudah lelah, kulit kehitam-hitaman, sakit kepala, gagal hati, hepatitis, mudah emosi, hiperaktif, hipertensi, infeksi, insomnia, sakit liver, masalah mental, rasa logam di mulut.

Myasthenia gravis, nausea, nevi, mudah gelisah dan iritasi, parkinson, rematik, sikoprenia, sariawan perut, sickle-cell anemia, strabismus, gangguan penyerapan vitamin dan mineral, serta hemokromatis (Parulian, 2009; Paul et.al., 1989).

Logam Fe merupakan logam essensial yang keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah berlebih dapat menimbulkan efek racun.

Pada manusia, zat besi membantu pembentukan sel darah merah. Tingginya kandungan logam Fe akan berdampak terhadap kesehatan manusia diantaranya bisa menyebabkan keracunan (muntah), kerusakan usus, penuaan dini hingga kematian mendadak, radang sendi, cacat lahir, gusi berdarah, kanker, sirosis ginjal, sembelit, diabetes, diare, pusing, mudah lelah, hepatitis, hipertensi, insomnia (Parulian, 2009).

Tabel Kandungan Logam pada Air di Lahan eks Galian Pasir, Kab Lampung Timur (pH, 3,4 – 7,4).

Jenis LogamKisaran (mg/L)Baku Mutu/yang diperbolehkan
Fe (Besi)0,159 – 5,8980,3 (WHO, USEPA, Kemenkes RI)
Al (alumuniaum)0,456 – 3,7010,2 (WHO), 0.1 untuk Organisme akuatik (CCRM)
Ca (Calsium)2,535 – 11,567Sangat penitng bagi mahluk hidup (essensial). Pada kadar yang tinggi tidak berbahaya. Untuk air minum sebaiknya < 75 mg/L
Cr (kromuium)0,030 – 0,343Kadar air minum dan yang aman untuk biota akuatik sekitar 0.005 mg/l (Moore, 1991)
Cu (tembaga)0,092 – 0,204Pada air tanah bisa mencapai 12 mg/l. LC50 untuk avertebrata tawar dan laut < 0.5 mg/l; untuk ikan-ikan air tawar 0.02 – 1.0 mg/l (Moore 1991).
K (Kalium)0,764 – 5,111Kandungan diperairan tawar alami biasanya < 10 mg/l. pada sumur yang dalam dapat mencapai 100 mg/l. Termasuk unsur yang essensial untuk pertumbuhan tanaman dan hewan.
Mg (Magnesium)2,553 – 6,349Tidak bersifat toksik, Pada perairan alami berkisar antar 1 – 100 mg/l; pada air laut dapat mencapai 1000 mg/l. untuk keperluan air minum diperkenankan mencapai 50 mg/l (Mc Neely et al, 1979; Peavy et al 1985)
Mn (Mangan)0,012 – 0,386Termasuk Minor ion. Sifatnya hampir sama dengan besi, Pada perairan tawar alami bervariasi antara 0,002 – 4,0 mg/l; pada air minum maksimum 0,05 mg/l (Moore, 1991).
Na (Natrium)8,011 – 19,660termasuk mayor ion; kadar di[perairan sangat bervariasi antara 1 mg/l sd ribuan mg/l. Pada air minum sebaiknya tidak lebih dari 200 mg/l (WHO, 1984).
Zn (Seng)0,006 – 4,496Toksisitas bagi organisme akuatik pada kadar <1mg/l hingga 100 mg/l; LC50 dalam 48 jam untuk Daphnia hyalina adalah 0,04 mg/l (Baudouin dan Scoppa, 1974). Pada air minum sebaiknya tidak lebih dari 5 mg/l (McNeely et al, 1979)

Sumber data : Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 2021.

Maju Cemerlang Faperta Kita.


EnglishIndonesian