“Faperta Berkarya” Menilik Potensi Wisata Hutan Mangrove di Lampung Timur

Jurusan Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (KHT FP Unila) melalui Dr. Rudi Hilmanto, S.Hut., M.Si., Dr. Rahmat Safe’i, S.Hut., M.Si., dan Rusita, S.Hut., M.P., pada siaran faperta berkarya, bertempat Radar Lampung Televisi, Kamis (08/04/2021), dengan topik: Menilik Potensi Wisata Hutan Mangrove di Lampung Timur.

Pesisir Kabupaten Lampung Timur sebagian besar merupakan ekosistem mangrove.

Kondisi ekosistem mangrove sangat rentan dengan adanya aktivitas manusia dan lingkungan (Alongi, 2009; Hogarth, 2007; Saenger, 2002).

Ekosistem mangrove sangat rentan terhadap kerusakan oleh aktivitas manusia dan lingkungan.

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang paling terancam di seluruh dunia dan mengalami penurunan yang dramatis selama setengah abad terakhir (Kuenzer et.al., 2011).

Secara global ekosistem mangrove mengalami pengurangan. Lima puluh persen dari ekosistem telah hilang dan saat ini kehilangan sekitar 1 persen per tahun di seluruh dunia (Saenger, 2002).

Hal ini karena aktifitas manusia dan pengaruh lingkungan mengganggu pada ekosistem mangrove (dampak negatif dari antropogenik).

Pengembangan lahan pertanian pesisir dan budidaya tambak di daerah intertidal dianggap sebagai faktor utama di balik delineasi mangrove, konversi hutan mangrove untuk pertanian biasanya menonjol di negara-negara seperti India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, dan Indonesia (Das Gupta and Shaw, 2013).

Lahan yang akan digunakan untuk produksi udang di Indonesia sering diambil dari ekosistem mangrove (Martinez-Alier, 2001).

Di Provinsi Lampung, budidaya udang telah menyebabkan kerugian hampir 90% dari tutupan hutan bakau; 27.000 ha udang air payau dan kolam ikan telah dikembangkan di hutan bakau (Zieren, Wiryawan, dan Susanto, 1999).

Penelitian-penelitian terkait dengan ekosistem mangrove lebih banyak menggambarkan kondisi sediment transport dan lebih menekankan kepada sosial ekonomi untuk pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem mangrove di daerah Pesisir.  Tetapi, tidak bisa menjawab esensi dari permasalahan yang sebenarnya terjadi.

Berupa faktor pembentuk fisik yang mempengaruhi ekosistem mangrove.

Sehingga masih banyak yang tidak di ketahui terkait efek, proses, dan fenomena yang terjadi pada perubahan-perubahan Pesisir Kabupaten Lampung Timur.

Sehingga nantinya bisa digunakan untuk pengelolaan lebih baik di daerah pesisir di masa yang akan datang.

Memahami pembentukan ekosistem mangrove melalui faktor pembentuk fisik serta efek, proses, dan fenomena yang terjadi melalui pengukuran dan monitoring faktor pembentuk fisik pada sediment transport dan ekosistem mangrove di Pesisir Kabupaten Lampung Timur. (Data resmi: Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 2021).

Maju Cemerlang Faperta Kita.

EnglishIndonesian