ANALISIS SISTEM USAHATANI KOPI DI SEKITAR

TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN

PROPINSI LAMPUNG

 

Furi Yusmiati1, Bustanul Arifin2, dan Teguh Endaryanto2

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) membandingkan sistem usahatani kopi di daerah kopi lebat dan kopi transisi di sekitar TNBBS dengan lahan kopi stabil (sebagai kontrol) serta pengaruhnya terhadap Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Propinsi Lampung, dan (2) mengkaji pengaruh perbedaan kondisi kopi pada satu areal lahan terhadap tingkat keuntungan usahatani kopi petani di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Propinsi Lampung.   Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus karena merupakan satu-satunya daerah yang dilewati hutan TNBBS. Fokus penelitian di pilih secara purposive, yaitu di Dusun Way Suluh (kopi lebat), Bangunsari Barat (kopi transisi), dan Way Harong I (kopi stabil). Penentuan kelompok sampel dilakukan dengan cluster random sampling karena populasinya heterogen. Pengambilan sampel dari masing-masing kelompok dilakukan dengan cara simple random sampling. Respondennya adalah petani kopi sebanyak 137 orang yang didapat dengan rumus Slovin. Waktu pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Desember 2008.  Penelitian ini menggunakan metode wawancara langsung dengan petani responden. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis keuntungan menggunakan NPV, IRR, B/C rasio, dan Payback period. Uji hipotesis yang digunakan, yaitu  uji Kai Kuadrat (Chi Square) dan analisis ragam (analysis of variance) dengan taraf nyata 0,05.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sistem usahatani kopi di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan meliputi, sistem usahatani kopi secara intensifikasi melalui teknik pengelolaan kebun yang intensif yaitu di daerah kopi lebat (Dusun Way Suluh) dan sistem usahatani dengan diversifikasi lahan melalui tumpangsari tanaman kopi dengan kakao,lada, pisang, dan jengkol yang terdapat di daerah kopi transisi (Dusun Bangunsari Barat). Jika dibandingkan dengan usahatani di Dusun Way Harong I (kopi stabil), maka usahatani kopi di Dusun Way Suluh (kopi lebat) dapat dikatakan cukup stabil karena produktivitas kopinya mendekati produktivitas kopi di Dusun Way Harong I. Sedangkan usahatani kopi di Dusun Bangunsari Barat (kopi transisi) jika dibandingkan dengan daerah kontrol (Dusun Way Harong 1), maka diketahui bahwa sistem usahatani yang diterapkan sama-sama dilakukan secara tumpangsari, (2) hasil uji Kai Kuadrat (Chi Square) menunjukkan bahwa perbedaan kondisi tanaman kopi pada satu areal lahan di sekitar TNBBS ternyata berpengaruh terhadap tingkat keuntungan petani kopi, yaitu semakin tinggi produktivitas kopi maka keuntungan yang diperoleh juga semakin besar dengan asumsi harga kopi adalah konstan (ceteris paribus). Sedangkan hasil dari analisis ragam (Analysis of Variance) dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat keuntungan usahatani kopi dilihat dari perbandingan antara kondisi tanaman kopi (lebat, transisi, kontrol) dan umur tanaman kopi (≤ 10 tahun, > 10 tahun). Hasil tersebut dapat diartikan bahwa tingkat keuntungan usahatani kopi antara kondisi tanaman kopi yang satu dengan yang lain dan tanamannya berumur muda maupun tua tidak mempunyai perbedaan atau relatif sama.

Leave a Reply