Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Agb FP Unila) melalui Dr. Novi Rosanti, SP., MEP., Lina Marlina, SP., M.Si., dan Yuliana Saleh, SP., M.Si., melaksanakan siaran Faperta Berkarya dengan topik “ Mampukah Agribisnis Kopi Membuat Petani Sejahtera”, bertempat di Laboratorium Lapang Terpadu FP Unila, Kamis (19/8/2021).

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran cukup penting dalam perekonomian Indonesia. Kopi menjadi sumber pendapatan 1,9 juta rumah tangga petani di Indonesia (Bappenas 2014).

Selain sebagai sumber pendapatan masyarakat, kopi juga berkontribusi sebagai sumber devisa negara. Kontribusi kopi pada tahun 2019 mencapai US$ 883,12 juta atau 24,44 persen dari nilai total ekspor hasil pertanian Indonesia (BPS 2020).

Saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke 4 sebagai negara pengekspor kopi terbesar di dunia setelah negara Brazil, Vietnam dan Colombia (ICO, 2019).

Komoditas kopi Indonesia menjadi salah satu komoditas yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai produk ekspor andalan. Indonesia dikenal memiliki jenis kopi yang khas dari masing-masing daerah di Indonesia.

Provinsi Lampung merupakan produsen komoditas kopi terbesar di Indonesia dengan nilai ekspor US$ 332,1 juta atau 38,07 persen dari total ekspor kopi nasional tahun 2019 (BPS, 2020).

Perkembangan ekspor kopi Indonesia tidak terlepas dari perkembangan permintaan kopi dunia.

Permintaan kopi dunia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dengan rata-rata pertumbuhan 2,2 persen/tahun pada tahun 20016/2017-2019/2020, dengan jumlah konsumsi tahun 2016/2017 sebesar 158,125 juta bags (1 bags = 60 kg) dan meningkat tahun 2019/2020 sebesar 165,053 juta bags (ICO, 2020).

Selain permintaan kopi dunia yang terus meningkat, konsumsi kopi domestik juga mengalami perkembangan yang cukup baik.

Konsumsi kopi Indonesia meningkat rata-rata 4,16 persen/tahun dari tahun 2008/2009-2019/2020 (ICO, 2020). Meningkatnya konsumsi kopi domestik telah mendorong tumbuhnya industri pengolahan kopi.

Industri pengolahan kopi dalam satu dekade terakhir menunjukkan pertumbuhan yang yang cukup pesat. Munculnya budaya cafe, mendorong tumbuhnya rantai pasok panyangrai-pengecer kopi yang lebih luas.

Lampung sebagai salah satu produsen utama kopi Robusta Indonesia masih menghadapi persoalan rendahnya produktivitas dan mutu kopi yang dihasilkan.

Produktivitas rata-rata kopi di Lampung tahun 2019 sebesar 795kg/ha (BPS, 2020). Produktivitas kopi Lampung jauh di bawah Vietnam yang mencapai 2499 kg/ha (Kementan 2019).

Rendahnya produktivitas kebun kopi di Lampung dipengaruhi oleh varietas benih kopi yang digunakan serta sistem pengelolaan kebun yang dilakukan (Zen dan Budiasih, 2019).

Selain itu, perkebunan kopi di Lampung merupakan perkebunan rakyat dengan kepemilikan lahan kurang dari 2 ha dan sebagian besar belum menerapkan teknik budidaya sesuai anjuran (Arifin, 2010).

Selain masalah produktivitas, kopi Lampung juga menghadapi persoalan rendahnya mutu kopi yang dihasilkan. Petani kopi di Lampung umumnya menjual kopi asalan yang masih bercampur dengan kulit, gelondongan dan yang lainnya serta dengan kadar air yang masih tergolong tinggi.

Marlina (2014) menyatakan petani kopi di Lampung menerima harga yang relatif rendah dari yang seharusnya diterima disebabkan rendahnya kualitas kopi yang dihasilkan.

Rendahnya kualitas kopi yang dihasilkan terkait dengan pengetahuan dan teknologi budidaya maupun pascapanen yang diterapkan oleh petani.

Rendahnya kualitas kopi tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada petani. Banyak pihak yang terlibat dalam proses pembentukan rantai nilai sebuah produk.

Setiap proses dalam pembentukan rantai nilai menggambarkan hubungan input-output dan peran setiap pelaku yang terlibat dalam menentukan kualitas kopi (Slob, 2006).

Oleh karena itu, pengembangan komoditas kopi harus dilakukan secara terintegrasi dengan menerapkan sistem agribisnis kopi.

Agribisnis merupakan suatu sistem pengelolaan pertanian yang terdiri dari subsistem sarana produksi subsistem usahatani (on farm), subsistem pengolahan hasil (off farm atau agroindustri), subsistem pemasaran dan subsistem kelembagaan penunjang.

Petani merupakan salah satu variabel kunci yang akan menentukan keberhasilan agribinis kopi.

Petani kopi harus diedukasi untuk mengelola kebun kopi sebagai unit bisnis dengan menerapkan manajemen kebun yang baik.

Penerapan inovasi teknologi pada subsistem usahatani kopi belum banyak dilakukan, terutama dalam pengelolaan budidaya kopi yang sesuai dengan teknik budidaya yang baik (Good Agriculture Practice/GAP).

Selain peningkatan kapasitas petani, ketersediaan sarana produksi seperti pupuk, bibit unggul dan permodalan perlu menjadi perhatian bersama untuk mengembangkan komoditas kopi.

Petani kopi rakyat umum mengalami masalah dalam permodalan, akses untuk mendapatkan input pupuk dan persoalan pemasaran (seperti mutu biji kopi yang dihasilkan, akses informasi dan pasar).

Subsistem pengolahan juga memegang peranan penting dalam perkembangan industri kopi.

Subsistem ini merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam agribisnis kopi karena dengan adanya pengolahan dapat memberikan nilai tambah.

Nilai tambah ini memiliki margin yang besar dan tentunya jika dilakukan dengan baik akan berdampak bagi
peningkatan kesejahteraan tidak hanya masyarakat namun juga wilayah.

Industri pengolahan kopi membutuhkan keterjaminan rantai pasok dengan kuantitas dan kualiatas yang konsisten.

Oleh karena itu, kerjasama antara perusahaan pengolahan kopi dan petani kopi dalam skema kemitraan yang saling menguntungkan perlu diinisisasi.

Kemitraan yang saling menguntungkan akan memberikan manfaat untuk perusahaan dan petani.

Perusahaan memperoleh manfaat berupa keterjaminan bahan baku dan petani juga mendapat manfaat berupa terbukanya akses pasar, keterjaminan harga dan bahkan permodalan.

Saat ini bisnis kopi sedang berkembang dengan pesat. Kopi bukan bisnis yang musiman atau menjadi tren sehingga banyak investor yang tertarik untuk berusaha pada bisnis ini.

Provinsi Lampung sebagai salah satu sentra produksi kopi memiliki potensi dalam pengembangan bisnis kopi karena tersedianya bahan baku melimpah dengan lokasi sumberdaya yang mudah di akses serta tentunya ada perubahan lifestyle tidak hanya diperkotaan namun juga di perdesaan.

Bisnis kopi yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah agrowisata kopi, diversifikasi limbah kopi, pembibitan kopi, usahatani kopi, pengolahan kopi, kedai/kafe kopi, dan bisnis turunan lainnya.

Keberhasilan agribisnis kopi membutuhkan dukungan dari para pihak terkait dalam proses produksi kopi mulai dari penyediaan sarana produksi, penerapan budidaya kopi yang baik, pengolahan kopi, pemasaran kopi, hingga dukungan lembaga penunjang dan kebijakan pemerintah.

Sinergitas antara Akademisi-Pemerintah-Swasta diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan petani khususnya petani kopi, (sumber data, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 2021).

Maju Cemerlang Faperta Kita.