Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) melalui Prof. Dr. Ir. Murhadi, M.Si. (Kepala Laboratorium Analisis Hasil Pertanian), Prof. Dr. Ir. Udin Hasanudin (Kepala Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri), dan Lathifa Indraningtyas, STP, MP., (Dosen Jurusan THP) melaksanakan program Faperta Berkarya dengan tema Pengembangan Industri Hilir Berbasis Kelapa Sawit Yang Berkelanjutan, Kamis (18/11/2021) bertempat di Laboratorium Lapang Terpadu.

Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia dengan produksi minyak sawit dan inti sawit pada tahun 2018 tercatat sebesar 48,68 juta ton, yang terdiri dari 40,57 juta ton crude palm oil (CPO) dan 8,11 juta ton palm kernel oil (PKO). Jumlah produksi tersebut berasal dari Perkebunan Rakyat sebesar 16,8 juta ton (35%), Perkebunan Besar Negara sebesar 2,49 juta ton (5%,) dan Perkebunan Besar Swasta sebesar 29,39 juta ton (60%).

Komoditas kelapa sawit memegang peran penting bagi kehidupan masyarakat dengan menyediakan lapangan pekerjaan sebesar 16 juta tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.

Komoditas perkebunan merupakan andalan bagi pendapatan nasional dan devisa negara, dimana total ekspor perkebunan pada tahun 2018 mencapai 28,1 miliar dolar atau setara dengan 393,4 Triliun rupiah. Kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional diharapkan semakin meningkat memperkokoh pembangunan perkebunan secara menyeluruh.

Produk olahan berbasis kelapa sawit Indonesia secara tradisional masih dalam bentuk CPO yang mempunyai kelemahan selain bernilai tambah rendah, dampak lingkungan yang negatif, juga seringkali mengalami fluktuasi harga karena harga CPO ditentukan secara internasional.

Pemerintah telah menggulirkan program hilirisasi industri kelapa sawit nasional sejak 2011. Program hilirisasi digelar sebagai upaya membesarkan industri sawit nasional yang menjadi salah satu sektor andalan bagi perekonomian Indonesia.  Dengan program hilirisasi manfaat ekonomi pun diyakini bakal meningkat. Berbagai kebijakan pun telah digulirkan terkait program hilirisasi ini. Upaya ini telah meningkatkan industri hilir kelapa sawit setiap tahunnya.  Hilirisasi industri minyak kelapa sawit nasional merupakan salah satu bagian penting dalam pembangunan jangka panjang industri minyak sawit Indonesia, mengingat sawit merupakan salah satu komoditas strategis.

Berbagai kebijakan dalam rangka mendorong percepatan hilirisasi industri sawit nasional antara lain adalah kebijakan insentif pajak, pengembangan kawasan industri integrasi industri hilir sawit dengan fasilitas/jasa pelabuhan, kebijakan bea keluar dan pungutan ekspor, serta kebijakan mandatori biodiesel untuk substitusi solar impor.  Terjadi perubahan perbandingan ekspor produk hilir vs produk hulu sawit Indonesia yaitu pada 2006, ekspor hulu masih sekitar 60 persen–70 persen; sedangkan pada akhir ini ekspor produk hilir justru mencapai 60 persen–70 persen dan produk hulu hanya sekitar 30 persen–40 persen.

Hilirisasi minyak kelapa sawit yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini dapat dikelompokkan atas tiga jalur hilirasasi, yakni jalur hilirisasi oleopangan complex, oleokimia complex, dan biofuel complex.

  • Jalur Hilirisasi Oleopangan (oleofood complex) yakni industri-industri yang mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk antara oleo pangan (intermediate oleofood) sampai pada produk jadi oleopangan (oleofood product).   Berbagai produk hilir oleopangan yang telah dihasilkan di Indonesia antara lain minyak goreng sawit, margarin, vitamin A, Vitamin E, shortening, ice cream, creamer, cocoa butter/specialty-fat dan lain-lain.
  • Jalur Hilirisasi Oleokimia (oleochemical complex) yakni industri-industri yang mengolah mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara oleokimia/oleokimia dasar sampai pada produk jadi seperti produk biosurfaktan, misalnya ragam produk detergen, sabun, shampo), biolubrikan (misalnya biopelumas) dan biomaterial (misalnya bioplastik).
  • Jalur Hilirisasi Biofuel (biofuel complex) yakni industri-industri yang mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara biofuel sampai pada produk jadi biofuel seperti biodiesel, biogas, biopremium, bioavtur.

Hilirisasi minyak sawit dengan tiga jalur tersebut merupakan bagian penting dari strategi industrialisasi di Indonesia, yakni kombinasi strategi promosi ekspor dan substitusi impor. Melalui hilirisasi, manfaat ekonomi (multiplier ekonomi) akan terjadi di dalam negeri. Dengan hilirisasi, jenis ragam produk hilir yang dihasilkan terus bertambah, dari semula berjumlah 70 produk (2011), naik menjadi 126 produk (2017), lalu meningkat menjadi 170 produk (2020), dengan dominasi produk pangan dan bahan kimia.

Selain mengoptimalkan proses produksinya, industri kelapa sawit di Indonesia dibangun dengan pendekatan yang memprioritaskan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan, yang telah diatur secara khusus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Data: Fakultas Pertanian Universitas Lampung, 2021.
Sumber : Industri Kelapa Sawit Indonesia: Menjaga Keseimbangan Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4593405/indonesia-bersiap-jadi-raja-hilir-sawit-kapan-itu
https://gimni.org/gimni-ekspor-turunan-cpo-akan-meningkat/

Maju Cemerlang Faperta Kita