

Bandar Lampung, 15 April 2026 — Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) bersama PTPN, Kementerian Pertanian, organisasi petani, dan para akademisi menggelar diskusi terfokus mengenai potensi ubi kayu sebagai komoditas strategis pendukung ketahanan energi nasional berbasis bioetanol. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Dekan FP Unila ini menjadi langkah awal membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, BUMN, dan petani dalam pengembangan ekosistem ubi kayu yang produktif dan berkelanjutan.
Diskusi ini dihadiri antara lain oleh Direktur Holding PTPN Denaldy Mulino Mauna, perwakilan Kementerian Pertanian yaitu Direktur Aneka Kacang dan Umbi pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Ir. Dyah Susilokarti, M.P., Direktur Operasional PTPN I Fauzi Omar, Ketua Umum Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Dasrul Aswin, serta jajaran pimpinan dan akademisi FP Unila.
Dekan FP Unila Kuswanta Futas Hidayat menyampaikan bahwa Provinsi Lampung telah ditunjuk oleh Bappenas sebagai pusat riset singkong nasional. Selain itu, terdapat arahan untuk meningkatkan produktivitas singkong hingga mencapai target 30 ton per hektar. Untuk mendukung upaya tersebut, Unila telah merumuskan enam langkah utama, yaitu pemetaan klon singkong di Lampung, pembibitan dan perbanyakan bibit unggul, penyusunan Good Agricultural Practices (GAP), mekanisasi budidaya singkong, penyusunan road map pengembangan singkong di Lampung, serta pelaksanaan demplot ubi kayu di empat kabupaten sentra produksi.
Direktur Holding PTPN, Denaldy Mulino Mauna, menegaskan bahwa penguatan ketahanan energi menjadi agenda strategis nasional. Dalam pembahasan nasional terkait kondisi global dan ketahanan energi, pemerintah mendorong langkah-langkah percepatan, termasuk target implementasi B50 berbasis kelapa sawit dan pencapaian E20 pada tahun 2028. Untuk mendukung target tersebut, diperlukan pengembangan lahan, pembangunan pabrik etanol, serta penguatan pasokan bahan baku, termasuk dari ubi kayu. Dalam konteks ini, PTPN telah menyiapkan sekitar 7.000 hektare lahan di Lampung dan 3.000 hektare di Sumatera Selatan untuk pengembangan budidaya ubi kayu, sembari menjalin kolaborasi dengan akademisi guna menentukan teknologi budidaya dan varietas yang paling sesuai.
Mewakili Kementerian Pertanian, Direktur Aneka Kacang dan Umbi pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Ir. Dyah Susilokarti, M.P., menekankan bahwa pengembangan ubi kayu untuk bioetanol perlu dirancang secara cermat agar target ketahanan energi dapat dicapai tanpa mengganggu ketahanan pangan. Ia menyoroti pentingnya kesiapan benih unggul, ketersediaan lahan baru, pengaturan jadwal tanam, serta strategi pasokan bahan baku sebagai prasyarat utama keberhasilan pengembangan industri etanol berbasis singkong.
Sejumlah akademisi FP Unila turut memberikan masukan teknis dalam forum ini. Prof. Udin Hasanudin menyoroti perlunya kehati-hatian dalam pengembangan pabrik etanol berbahan baku singkong agar tidak menimbulkan tekanan pada industri tapioka yang telah lebih dulu berkembang di Lampung. Prof. Setyo Dwi Utomo menekankan pentingnya strategi peningkatan produktivitas dan percepatan perbanyakan bibit unggul, termasuk melalui pemanfaatan klon-klon potensial lokal. Sementara itu, Prof. Radix Suharjo menegaskan perlunya pembenahan kondisi lahan melalui penambahan bahan organik dan mikroba pembenah tanah untuk meningkatkan efisiensi serapan hara, produktivitas tanaman, serta ketahanan terhadap penyakit.
Diskusi juga membahas pentingnya mekanisasi budidaya, pola tanam yang adaptif, serta penguatan peran petani dalam rantai pasok singkong nasional. Para peserta sepakat bahwa keberhasilan pengembangan bioetanol berbasis ubi kayu sangat bergantung pada sinergi dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan benih, budidaya, teknologi panen, pengolahan, hingga kepastian pasar yang berpihak pada keberlanjutan usaha petani dan industri.
Menutup diskusi, Denaldy Mulino Mauna menyebut pertemuan ini sebagai langkah awal menuju penguatan ketahanan energi dan pangan nasional. Lampung dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi model pengembangan ubi kayu yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan. FP Unila pun menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi melalui riset, inovasi, dan pendampingan teknologi dalam mendukung pengembangan singkong sebagai komoditas unggulan daerah dan nasional.





