FP Unila Usulkan 4 Inovasi Program Teknologi Pertanian Mengenai Singkong ke Mentan “Rabakong Bersaing Menuju Program Nasional”

Universitas Lampung (Unila) melalui Fakultas Pertanian (FP) ikut berpartisipasi pada ajang inovasi berbasiskan teknologi dalam menguatkan dan meningkatkan produktivitas pangan nasional yang digerakkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, bertempat di IPB Internasional Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/5/2021).

Dekan FP Unila Prof. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., mengatakan ada empat inovasi yang menjadi usulan FP Unila. Keempatnya mengenai peningkatan pemanfaatan produksi singkong. Mulai perajang batang singkong atau Rabakong, pakan ternak berbasis batang singkong, multi nutrient souce (MNS), dan gula singkong.

’’Alhamdulillah dan insya Allah inovasi teknologi pertanian dari FP Unila dapat diterima oleh Kementan RI,” ujar Prof. Irwan.

Rabakong adalah alat penghancur batang singkong. Rancangannya memanfaatkan rantai chainsaw sebagai alat penghancur yang mampu menghasilkan serat batang singkong. Inovasi ini sudah mendapatkan sertifikat paten sederhana dari Menteri Hukum dan HAM dengan nomor paten IDS000002295 pada 22 April 2019.

’’Alat ini sudah siap dikembangkan dan digunakan sebagai bantuan dan pengujian produk dari Provinsi Lampung melalui Dinas Peternakan yang diberikan kepada 10 kelompok tani yang tersebar di Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Waykanan, Kabupaten Tulangbawang, dan Kabupaten Mesuji,” terangnya.

Rabakong ini dapat digunakan untuk menangani permasalahan keberadaan limbah batang singkong serta pembuatan produk turunan yang lebih bernilai tambah secara ekonomi. Seperti untuk membuat pakan ternak, pupuk organik, berikut bahan bakar, biochar, obat nyamuk bakar dan papan partikel.

Kemudian untuk inovasi berupa pakan ternak berbasis batang singkong, merupakan produk turunan yang dihasilkan dari olahan limbah batang singkong menjadi serbuk batang singkong. Serbuk ini berfungsi sebagai pengganti hijauan dalam pemenuhan kebutuhan pakan ternak yang pada akhirnya dapat bermanfaat meningkatkan average daily gain (ADG) sebesar 0,6 kg per hari. Kemudian difermentasi dalam silase menggunakan produk yang dihasilkan Fakultas Pertanian berupa MNS maka ADG naik sebesar 1 kg.

Bahkan bisa lebih per harinya. Saat ini, program ini sudah digunakan sebagai bantuan dan pengujian produk dari Provinsi Lampung melalui Dinas Peternakan yang diberikan kepada 10 kelompok yang juga menerima bantuan alat Rabakong. Produk ini sendiri memiliki manfaat untuk menguntungkan petani karena pembuatan pakan ternak berbasis
batang singkong ini bahan bakunya tersedia, mudah dan berlimpah serta gratis
,” lanjutnya.

Kemudian MNS, inovasi ini merupakan produk yang ditambahkan dalam ransum pakan ternak ruminansia. Komponen yang terdapat dalam MS meliputi molase, urea, dolomit dan mineral makro organik. Dalam pemberiannya mampu menghasilkan GGL sebesar 1,26 kg per ekor per hari untuk sapi peranakan limousin dan PO. Riset dilaksanakan di peternakan rakyat sehingga mampu terlihat langsung dampaknya ke masyarakat.

“Saat ini pengembangan MNS lain dalam bentuk riset, juga mulai dikomersialisasi dengan diinisiasi oleh mahasiswa peternakan yang masuk dalam Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) periode 2020,” ucapnya.

Prof. Irwan melanjutkan, program tersebut sudah dipasarkan di 7 kabupaten di Lampung seperti Bandarlampung, Metro, Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Selatan, Waykanan dan Mesuji sebanyak 200 liter. “Manfaatnya bisa meningkatkan efisiensi ransum 0,185 kg daging per kg ransum dengan ADG sebesar 1,26 kg per ekor per hari terhadap sapi potong serta income over feed cost 3,18,” tambahnya.

Inovasi selanjutnya adalah gula singkong. Produk gula cair dari singkong ini dibuat dengan teknologi sederhana yaitu menggunakan proses enzimatis menggunakan enzim alfa amilase dan glukosidase dengan produk yang dihasilkan berupa sirup glukosa yang aman dikonsumsi.

Gula cair singkong berbeda dengan gula tebu berdasarkan komponen penyusunnya yaitu sirup glukosa adalah monosakarida terdiri atas satu monomer yaitu glukosa terakhir sedangkan gula pasir adalah
sukrosa yang merupakan disakarida yang terdiri dari glukosa dan fruktosa.

Gula cair singkong mempunyai kelebihan karena tersusun dari glukosa saja, karena gula yang paling penting dalam tubuh adalah glukosa. Selanjutnya tubuh hanya bisa menyerap glukosa dan menjadikannya sebagai energi untuk otot dan juga otak. Saat ini produk sudah mulai dikenalkan dan diujicobakan secara terbatas pada berbagai kegunaan baik konsumsi langsung maupun pada produk makanan,” paparnya.

Produk ini juga sedang diujicobakan secara intens pada beberapa sumber pati potensial seperti beras dan beberapa jenis
labu. Manfaatnya produk ini secara ekonomi sangat potensial dan menguntungkan, karena merupakan hilirisasi yang bernilai tambah cukup tinggi yang dapat dilakukan oleh petani, usaha mikro, dan sejenisnya karena prosesnya yang sederhana. (rma/c1/fik/ Harian Radar Lampung/SABTU, 29 MEI 2021)

Maju Cemerlang Faperta Kita.

Berita terkait silahkan klik : Mentan Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Inovasi Pertanian

Mentan Ajak Perguruan Tinggi Kembangkan Inovasi Pertanian

Mentan SYL Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Inovasi Pertanian

Gandeng Perguruan Tinggi, Mentan Ajak Perkuat Sektor Pertanian

Mentan Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Inovasi Pertanian

EnglishIndonesian