Teliti Hutan di Aceh hingga Papua

Prof. Ir. Christine Wulandari, M.P., PhD., menjadi satu diantara 16 Dosen yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Lampung (Unila) pada 22 September 2021.

Puncak karir tertinggi menjadi Guru Besar dengan gelar Profesor, berikut petikan wawancara Tribun Lampung bersamanya.

Awal merintis karir didunia pendidikan? Ini jadi semacam kilas balik karena saya sudah lama sekali menjadi dosen. Tahun 1993 saya gabung di Unila, namun sebelumnya saya tahun 1988 begitu lulus S1 dan menyandang gelar insinyur kehutanan, saya mengajar di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta.

Saya bisa sampai ke Unila karena awalnya suami diterima di Unila tahun 1993, sebagai istri saya ikut kemana suami bertugas hingga turut mengabdi di Unila. Saya merupakan perempuan hutan pertama di Unila yang ikut mendirikan jurusan kehutanan di kampus tersebut.

Perjuangan saat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi? Perjuangannya, saat menempuh S2 saya tengah hamil dan kemudian mengasuh anak pertama. Itu bukan hal mudah terlebih saat itu melewati masa-masa hamil besar hingga melahirkan diproses penyelesaian tesis.

Tapi saya percaya Allah selalu bersama kita selagi kita meminta pada-Nya. Terkait suka duka saya memang suka kelapangan, dari hutan Aceh sampai Papua saya pernah datangi (untuk penelitian), sampai sampai saya lupa mengurus kenaikan pangkat.

Perjalanan meraih gelar Doktor? Saya pergi ke Philipina Oktober 1996 untuk melanjutkan studi S3 melalui program beasiswa. Karena S1 dan S2 juga dari kehutanan, saya menyelesaikan S3 dengan waktu yang cukup cepat. 8 Agustus 1996 saya sudah selesai menjalaini studi S3.

Pengalaman berkesan saat melakukan penelitian? Sebagai peneliti sekaligus aktif di sebuah NGO (Non Government Organization) membuat jiwa peneliti tidak bisa lepas dari dalam diri saya. Walaupun kita berkegiatan konservasi yang nampaknya tidak ada kegiatan ilmiahnya namun tetap bisa menghasilkan banyak tulisan ilmiah bahkan untuk seminar internasional.

Bagaimana perjuangan menuju Profesor? Saya mungkin ada 10 tahun mencapai ini. Terlebih ketika memutuskan untuk maju, persyaratan berubah-berubah terus sampai saya memilih menunggu peraturan yang benar-benar sudah pasti dan jelas terkait apa saja yang harus dipenuhi. Baru kemudian saya lanjutkan untuk mengurus itu.

Saya sebenarnya tipe orang yang menulis bukan karena pangkat. Jadi sekalipun sudah Guru Besar, saya akan terus produktif meneliti dan menulis.

Boleh diulas secara umum mengenai orasi ilmiah yang bakal disampaikan pada acara pengukuhan 22 September mendatang? Saya akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Sosial Learning sebagai Strategi Implementasi New Era Perhutanan Sosial Pasca Undang-Undang Cipta Kerja”

Adanya Undang-Undang Cipta Kerja dalam bidang kehutanan ini harus segera disikapi, terlebih suatu kebijakan akan total diimplementasi setelah 2 tahun terbit. Dengan demikian semua pihak terkait harus mempersiapkan agar implementasinya sesuai yang diharapkan.

Pandangan Anda terkait perkembangan hutan di Lampung saat ini? Gubernur kita Bapak Arinal Djunaidi sebelumnya pernah menjabat Kepala Dinas Kehutanan Lampung, yang tentunya sangat paham mengenai kehutanan di Lampung dan bagaimana kedepannya.

Kepala Dinasnya saat ini juga merupakan lulusan S2 Kehutanan Unila, melalui keduanya tentu sudah berusaha mengadopsi apa yang terjadi dilapangan termasuk penanganan saat ada permasalahan.

Terkait perkembangannya sendiri saya kira hampir sama dengan hutan di Indonesia, selalu kita punya masalah tetapi paling tidak selalu berusaha diselesaikan satu demi satu. Mungkin tidak bisa 100 persen selesai karena tiap wilayah punya permasalahan berbeda.

Apa yang akan dilakukan ketika sudah memasuki masa pensiun nanti? Insya Allah masih 13 tahun lagi untuk mengajar di Unila. Tetapi bagi saya walaupun nantinya sudah pensiun akan selalu memberikan apa yang saya punya kepada siapapun yang memerlukan.

Termasuk untuk melakukan berbagai penelitian yang sesuai dengan bidang saya. Ketika ke lapangan justru yang kerap saya rasakan, bukan hanya saya memberikan kepada mereka tetapi justru mereka memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan baru bagi saya.

Harapannya untuk anak muda di Lampung agar terpacu dalam mengenyam pendidikan tinggi? Pendidikan itu tidak hanya formal. namun misalkan mendapatkan kesempatan juga dukungan dari keluarga untuk bisa sekolah lebih tinggi, ambillah.

Jarak lokasi pendidikan yang jauh bukan menjadi halangan untuk terus maju dan meraih pendidikan lebih tinggi. Terlebih jika kompetensinya memungkinkan untuk mendapatkan beasiswa. Hasil penelitian membuktikan jika pendidikan yang dienyam akan berpengaruh ke depannya dalam melakukan berbagai inovasi ataupun dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Sumber: Tribun Lampung, Senin (13/9/2021), *Sulis Setia Markhamah.

EnglishIndonesian